Sabtu, 22 Oktober 2011

khalifah-khalifah bani abbasiyah

BAB I

PEMBAHASAN
KHALIFAH-KHALIFAH BANI ABBASYIYAH


A. Tiga Dinasti dalam Daulah Abbasiyahntah Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan kufah sebagai pusat pemerintahan, denagan Abbu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindankan pusat pemerintahan ke Bagdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. Imperium ini dengan nama Daulah Abbasiyah. Dalam beberapa hal Daulah Abassiyah memiliki persamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah. Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang mengembangkan nilai-nilai sagama islam. Namun tidak dapat disangkal sebagian khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Daulah Abbasiyah mengalami pergeseran dalam mengembangkan pemerintahan. Sehingga dapatlah dikelompokkan masa Daulah Abbsiyah menjadi lima periode sehubungan dengan corak pemerintah. Sedangkan menurut asal usul penguasa selama masa 508 tahun Daulah Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa. Yaitu Bani Abbas, Bani Buwaihi, Bani Saljuk, seperti tersebut dibawah ini. Kenyataan itu menunnjukkan bahwa masa pemerintahan itu diwarnai oleh intrik istana maupun perebutan kekuasaan secara internal.
 Bani Abbas (750-932)
1) Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M)
2) Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M)
3) Khalifah Al-Mahdi (775-785 M)
4) Khalifah Al-Hadi (785-786 M)
5) Khlifah Harun Al-Rasyid (786-809 M)
6) Khalifah Al-Amin (809-813 M)
7) Khalifah Al-Makmun (813-833 M)
8) Khalifah Al-Muktasim (833-842 M)
9) Khalifah Al-Wasiq (842-847 M)
10) Khalifah Al-Mutawkkil (847-861 M)
11) Khalifah Al-Muntasir (861-862 M)
12) Khalifah Al-Mustain (862-866 M)
13) Khalifah al-Mukktazz (866-869 M)
14) Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M)
15) Khalifah Al-Muktamid 9870-892 M)
16) Khalifah Al-Muktadid (892-902 M)
17) Khalifah Al-Muktafi (902-908 M)
18) Khalifah Al-Muktadir (908-932 M)





 Bani Buwaihihi (932-1075 M)

19) Khalifah Al-Kahir (932-934 M)
20) Khalifah Ar-Radi (934-940 M)
21) Khalifah Al-Mustagi ( 940-944 M)
22) Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M)
23) Khalifah Al-Mufi (946-974 M)
24) Khalifah At-Tai (974-991 M)
25) Khalifah Al-Kadir (991-1031 M)
26) Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M)

 Bani Saljuk (1075-1258 M)

27) Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M)
28) Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M)
29) Khalifah Al-Mustasid (118-1135 M)
30) Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M)
31) Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M)
32) Khalifah al-Mustanjid (1160-1170 M)
33) Khalifah Al0Mustadi (1170-1180 M)
34) Khalifah An-Nasir (1180-1224 M)
35) Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M)
36) Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M)
37) Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M)

 Periodisasi dalam Daulah Abbasiyah
a) Periode pertama (750-847 M)
Diawali dengan tangan besi
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendiri dari Daulah Abbasiyah ini adalah Abu Abbas as-Safah. Diawal pemerintahannya untuk mengukuhkan eksistensi keKhalifahan Daulah Abbasiyah, maka Abbu Abbas menerapkan kebijakan-kebijakan yang cukup tegas, kebijakan itu adalah memusnahkan anggota keluarga Daulah Bani Umayah, serta menggunakan suatu agen rahasia yang berfungsi untuk mengawasi gerak-gerik keturunan Bani Umayah, bila perlu membunuhnya.
Abu Jakfar Al-Mansur adalah Khalifah Daulah Abasiyah yang dikenal paling kejam. Namun dialah yang paling berjasa dalam mengkonsolidasikan dinasti abbasiyah sehingga menjadi kuat dan kokoh, dia meletakkan dasar-dasarpemerintahan Bani abbasiyah dan tidak segan melakukan tindakan tegas kepada pihak-pihak yang mengganggu pemerintahannya.
Untuk menunjang langkah menuju masa kejayaan beberapa kebijakan penting yang diambil oleh Al-Mansur yaitu memindahkan ibu kota dari kuffah ke Baghdad. Misalnya beberapa daerah taklukkan melepaskan diri. Namun demikian pemberontakan-pemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur. Selain itu salah satu kebijakan Al-Mansur adalah melakukkan invasi dan perluasan daerah kekuasaan, antara lain kewilayah Armenia, Mesisah, Andalusia dan afrika.
Puncak opularitas daulah ini berada pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid (786-708 M) dan putranya Al-Makmun (813-833 M). Kedua penguasa ini lebih menekankan pada pengembangan peradaban dan kebudayaan islam ketimbang perluasan wilayah. Orientasi pada pembangunan peradaban dan kebudayaan ini mennnjadi unsure pembeda lainnya.
Ada dua kecendrungan yang terjadi. Pertama.seorang pemimpin local memimpin suatu pemberontakan yang berhasil menegakkan kemerdekaan penuh. Kedua, yaitu ketika orang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh Khalifah menjadi sangat kuat.
Pada zaman Al-Mahdi, perekonomian menningkat. Iriasi yang dibangun membuat hasil pertanian berlipat ganda disbanding sebelumnya. Pertambangan dan sumber-sumber alam bertanbah dan demikian pula perdagangan internasional ketimur dan kebarat.


Tingkat kemakmuran yang palling tinggi adalah pada zaman Harun Ar-Rasyid. Masa itu berlangsung sampai dengan masa Al-Makmun. Al-Makmun menonjol dalam hal gerakan intelektual dan ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku dari yunani.

Salah satu factor penting yang merupakan penyebab Daulah Abbasiyah pada periode pertama ini berhasil mencapai masa kemasan ialah terjadinya asimilasi dalam daulah abbasiyah ini. Berpartisipasinya unsure-unsur non arab, terutama bangsa Persia, dalam pembinaan peradaban Baitul Hikmah dan Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Al-Makmun.

 Zaman Keemasan
Kekhalifahan Bani Abbas biasa dikaitkan dengan Khalifah Harun Al-Rasyid, yang digambarkan sebagai Khalifah yang paling terkenal dalam zaman keemasan Khalifahan Bani Abbasiyah. Dalam memerintah Khalifah digambarkan sangat bijaksana yang saling didampingi oleh abu Nawas, seorang penyiar yang kocak, yang sebernanya adalah seorang ahli hikmah atau felsuf etika.
Dimasa-masa itu para kholifah mengembangkan berbagai jenis kesenian, terutama kesusastraan pada khusus nya dank e budayaan umum nya. Berbagai buku bermutu di terjemahkan dari peradaban india maupun yunani.kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang sastra dan seni juga berkembang.

b) Periode kedua (847-945 M) Kebijakan Khalifah al-Muktasim (833-842 M) untuk memilih unsur-unsur Turki dalam ketentaraan Kekhalifahan Daulah Abbasiyah terutama dibelakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa al-Makmun dan sebelumnya. Di masa al-Muktasim (833-842 M) dan Khalifah sesudahnya Al-Wasiq (842-847).da Khalifah sesudahnya Al-Wasiq (842-847 M), mereka mampu mengendalikan unsure-unsur turki tersebut. Akan tetapi. Khalifah Al-Mutawakkil yang merupan dari awt al periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. Pada maasanya orang-orang turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat setelah Al-Mutawakkil wafat. Mereka telah memilih dan mengangkat Khalfah sesuai kehendak mereka. Dengan demikian Bani Abbasiyah tidak lagi mempunyaikekkuatan dan kekuasaan, meskipun resminya mereka adalah penguasa. Usaha untuk melepaskan diri dari dominasi turki selalu mengalami kegagalan. Pada tahun 892 M, Baghdad kembali menjadi ibu kota. Sementara kehidupan intelektual terus berkembang. Akibat adanya persaingan intnal dikalangan tentara turki, mereka memang mulai melemah. Mulailah Khalifah Ar-Radi menyerahkan kekuasaan kepada Muhammad bin Raiq, Gubernur wasit dari Basrah. Disamping itu Khalifah membeinya gelar Amirul Umara (panglima para panglima). Meskipun dengan demikian keadaan bani abbas tidak menjadi lebih baik. Dari dua belas Khalifah pada periode ini, hanya empat orang wafat dngan wajar, selebihnya kalau tidak dibunuh mereka digulingkan deangan paksa. Pemberotakan masih bemuncul pada periode ini, seperti pemberontakan Zanj didataran rendah irak selatan dan Pemberontakan karamitah yang berpusat di Bahrain. Namun bukan itu semua yang menghambat upaya mewujudkan kesatuan politik Daulah Abbasiyah. Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas oada periode ini adalah sebagai berikut:
• Luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah yang harus dikendalikan, sementara komunikasi lambat. Berbarengan dengan itu kadar saling percaya dikalangan para penguasa dan pelaksaan pemerintah sangat rendah.
• Profesionalisasi tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi.
• Kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. Setelah kekuatan militer merosot, Khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.

c) Periode Ketiga (945-1055 M) Posisi Daulah Abbasiyah yang brrada dibawah kekuasaan Bani Buwaihi merupakan cirri utama dari periode ketiga ini. Keadaaan Khalifah lebih buruk ketimbang dimasa sebelumnya, lebih-lebih karena Bani Buwaihi menganut aliran Syiah. Akibatnya kedudukan Khalifah tidak lenih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Sementara itu Bani Buwaihi telah membagi kekuasaannya kepada ketiga bersaudaranya. Ali menguasai wilayahbagian selatan negeri Persia, Hasan menguasai wilayah bagian utara, dan ahmad menguasai wilayah Al-Ahwaz, Wasit dan Bagdad. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi menjadi pusat pemerintahan Islam, karena telah dipindah ke syiraz dimana berkuasa ali bin buwaihi yang memiliki kekuasaan Bani Buwaihi. Dalam bidang ilmu pengetahuan, Daulh Abbasiyah terus mengalami kemajuan pada periode ini. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti Al-Faribi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Miskaykawaihi dan kelompok studi Ikhwan As-Syafa. Bidang ekonomi, pertanian dan perdagangan juga mengalami kemajuan. Kemajuan itu juga diikuti dengan pembangunan kanal, mesjid dan rumah sakit.

d) Periode Keempat (1055-1199 M) Periode keempat ini ditandai dengan berkuasanya Bani saljuk dalam Daulah Abbasiyah. Kehadiran Bani saljuk ini adalah ats undangan Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di Baghdad. Keadaan Khalifah sudah mulai membaik, paling tidak kewibawaanya dalam bidang agama sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syiah. Seperti halnya pada periode sebelumnya, ilmu pengetahuan juga berkembang dalam periode ini. Nizam Al-Mulk, perdana menteri pada masa alp Arselan dan Maliksyah, mendirikan madrasah Nizamiyah dan Madrasah Harafiyah di Baghdad. Madrasah ini melahirkan banyak cendekiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Dalam bidang politik, pusa kekuasaan juga tidak terletak dikota Baghdad. Mereka membagi wiilayah kekuasaan menjadi beberapa propinsi dengan seorang gubernur untuk mengepali masing-masing provinsi. Pada masa kekuasaan melemah, masing-masing provinsi memerdekakan diri. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi diantara mereka melemah mereka sendiri.
e) Periode kelima (1199-1258 M)
Sempitnya wilayah kekuasaan khalifah menunjukkan kelemahan politiknya.
Faktor-faktor yang membuat daulah abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua factor:

 Faktoe Intern
1. Adanya persaingann tidak ssehat diantara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah.
2. Terjadinya perselisihan pendapat diantara kelompok pemikiran agama yang ada, yang berkembang menjadi pertumpahan darah.
3. Munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan social berkepanjanngan.
4. Terjadinya kemorosatan tingkat perekonomian sebagai akibat dari berontakan politik.
 Faktor Ekstern
1. Berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang.
2. Adanya serbuan tentara Mongol dan Tarta yang dipimpin oleh Hulagu Khan, yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu, yaitu perpustakaan di Baghdad.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar