Rabu, 10 Juni 2009

islamic

Menjadi Mukmin Yang Kuat

Kaum muslimin rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama mengabdikan diri pada Allah dalam arti menjalankan segala perintah-perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, tekun melaksanakan ibadah-Nya, dan selalu mencontoh akhlak Rasulullah.
Mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih baik ketimbang mukmin yang lemah. Kuat dalam hal ini dapat mencakup kuat badan, kuat ekonomi, kuat kedudukan, kuat mental, kuat secara sendiri-sendiri atau kuat secara bersama-sama. Menurut sunatullah, seseorang menjadi kuat bila ia memiliki faktor penunjang. Kuat badan ditunjang oleh kekekaran dan kesempurnaan susunan tubuh, dan juga ditentukan oleh gizi. Kuat ekonomi ditunjang oleh harta yang dihasilkan dari kerja keras yang penuh perhitungan. Kuat kedudukan ditunjang oleh kelebihan ilmu akhlak, dan langkah-langkah yang dilakukan oleh seseorang. Kuat mental karena iman dan kepercayaan kepada diri sendiri, dan seterusnya. Jadi, sbelum seorang mukmin menjadi kuat, dia harus mempersiapkan faktor penunjang kekuatan itu. Dengan demikian, dia akan lebih disukai dan lebih baik di sisi Allah SWT.

Kaum muslimin rahimakumullah
Yang harus dijaga setelah orang mukmin menjadi kuat ialah jangan sekali-kali takabur, sombong, dan congkak. Ia harus ingat bahwa segala yang baik itu, pasti ada yang lebih baik lagi.
Orang mukmin harus dinamis. Dia harus yakin bahwa apabila dia telah mencapai prestasi baik, di atasnya masih ada yang lebih baik. Begitu seterusnya secara tasalsul (sambung-menyambung).
Kekuatan yang ada pada diri seorang mukmin harus diabadikan untuk kepentingan hidupnya. Namun, dalam memilih kepentingan hidup itu, ia harus memilih yang ada gunanya bagi dirinya dngan tidak melupakan kontak dengan Allah. Hambatan-hambatan yang ditemuinya tidak membuat dirinya menjad lemah.
Bagi seorang mukmin, yang paling sulit ialah mengetur hati kalau ia harus menanggung akibat perbuatannya. Kebanyakan dalam diri kita, apabila dituntut untuk menjawab sebuah pertanyaan,”Mengapa kenyang? Kita akan menjawab, ”Karena menghabiskan empat piring nasi.” Mengapa mati?”Karena serangan jantung”. Andaikata kamu tidak makan. ”Ya, tidak kenyang.”Andaikata serangan jantung itu tergolong oleh dokter ahli? Secara spontan akan dijawab, ”Ya, belum mati”. Di sinilah orang banyak tergelincir. Padahal sebagai orang mukmin kita harus yakin bahwa bagaimanapun kehendak (iradah) dan takdir Allah pasti terjadi, baik ada sebabnya ataupun tidak.

Artinya:
”Dari Abu Hurairah r.a. , ia berkata, Rasulullah SAW, bersabda, ”Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai daripada orang mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya ada kelebihan. Cobalah kam cenderung kepada apa yang lebih bermanfaat bagimu, mohonkanlah pertolongan kepada Allah SWT, dan janganlah kamu katakan, ”Seandainya saya berbuat begini, maka begini.” Tetapi katakanlah, Allah SWT, telah menakdirkannya. Apa-apa yang dikehendaki oleh Allah SWT, maka diperbuatkan-Nya. Karena sesungguhnya kata-ata seandanya adalah membuka pekerjaan setan.”
(H.R. Muslim)

Kaum muslimin rahimakumullah
Dalam hadist ini, Rasulullah SAW, menjelaskan bahwa orang mukmin yang kuat itu lebih dicintai oleh Allah SWT, juga menyebutkan da dorongan-dorongan kaum muslimin untuk bersikap optimis dalam bekerja serta tabah dalam menghadapi segala kemungkinan. Hadist di atas mengandung tiga macam dorongan dan dua macam larangan, yaitu berikut ini:
Pertama, iman adalah pusat kebahagiaan dunia dan akhirat manakala diikuti dengan amal saleh. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT, dalam firman-Nya:


Artinya:
”Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beiman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(Q.S.An-Nahl:97)
Keimanan tiap-tiap orang berbeda-beda. Ada yang kuat dan ada yang lemah. Orang yang kuat imannya sangat terdorong untuk mengerjakan amal saleh sebanyak-banyaknya, mengerjakan amar ma’ruf dan nahi munkar, gemar berjihad, tidak takut rintangan dalam mengajak kebaikan, dan bersikap sabar dalam melaksanakan hak-hak Allah SWT, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya. Sebaliknya, orang yang lemah imannya, bersikap lengah dan lalai untuk beramal saleh, dan cita-citanya untuk mencapai kebahagiaan akhiratpun lemah pula. Orang yang kuat imannya lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah SWT, daripada mukmin yang lemah imannya. Apa yang dikerjakan oleh masing-masingnya mengandung kebaikan, namun orangyang kuat imannya selalu menyuburkan imannya dengan amal saleh sehingga imannya semakin rindang dan akarnya semakin menghujam ke dalam hati sanubari.

Kedua, Rasululah SAW, menganjurkan kepada kita untuk bersikap tanggap dalam mencari segala sesuatu yang membawa kemanfaatan dunia maupun kemanfaatan akhirat. Seorang mukmin tidak boleh melewatkan waktunya sehingga berjalan tanpa meninggalkan bekas kecuali ketuaan belaka. Namun, ia memanfaatkan waktu dengan kegiatan mencari ilmu, harta, menolong anak yatim, membaca Al-Qur’an, shalawat, dan sebagainya.
Ketiga, dalam menghadapi segala usaha dan rencana, hendaklah memohon pertolongan kepada Allah SWT, karena Dia-lah yang memutuskan segala sesuatu apabila disertai usaha-usaha yang bersifat lahir(memenuhi syarat-syaratnya). Dalam suatu hadist Rasulullah SAW, dijelaskan sebagai berkut:


Artinya:
”.... apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah SWT. Dan ketauhilah seandainya suatu umat berkumpul untuk mencari manfaat bagimu, niscaya mereka tidak dapat memberikan manfaat, kecuali sesuatu yang dicatat oeh Allah SWT untukmu dan seandainya suatu umat berkumpul untuk menimpakan suatu mudharat, niscaya mereka tidak dapat menimpakan mudharat kecuali apa yang telah Allah SWT catat atasmu.”
(H.R.Turmudzi)

Keempat, Rasulullah SAW, melarng kita bersikap pesimis dalam mencapai cita-cita. Hendaknya kita bersikap optimis dalam usaha kita, dan mengisi jiwa penuh dengan kepercayaan kepada Allah SWT agar apa yang kita cita-citakan tercapi dengan disertai usaha yang sungguh-sngguh. Nabi SAW telah mengajarkan doa kepada kita, antara lain:

Artinya :
”Ya, Allah SWT, saya mohon perlindungan kepada-Mu dari lemah dan malas.”
(H.R. Abu Daud)

Kelima, apabila kita tertimpa suatu hal yang tidak menyenangkan, Rasulullah SAW melarang kita untuk mengucapkan kata pengandaian. Karena kata ini dapat membuka pintu pekerjaan setan. Dengan kata-kata itu , seolah olah kita dapat menghindarkan diri dari takdir Allah SWT. Padahal takdir Allah SWT itu selalu terlaksana. Sedangkan untuk menghadapi sesuatu yang akan datang, kita harus mempersiapkan sepenuhnya dan hendaklah kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang kita telah alami pada waktu yang lampau, jangan sampai kita terperosok dua kali dalam satu lobang. Oleh karenanya kita harus berusaha untuk tidak melakukan sebab-sebab yang mengakibatkan kegagalan.


Kaum muslimin rahimakumullah
Secara keseluruhan, hadist ini meganjurkan agar orang beriman tidak berhenti berjuang, amar ma’ruf nahi munkar dan bersabar. Allah dan Rasul-Nya tidak menyukai mukmin yang malas, menunda-nunda urusan, dn meluangkan semua kegagalan atau keberhasilan pada pengandaian. Pengandaian adalah perlaku orang munafik. Berjuang amar ma’ruf nahi munkar dengan segala akibatnya adalah perintah Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus melaksanakan ya dengan penuh keikhlasan dan bersabar. Mudah-mudahan amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
Amin ya rabbal ’alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar