Sabtu, 22 Oktober 2011

kelahiran daulah bani abbasiyah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah tak ubahnya kacamata masa lalu yang menjadi pijakan dan langkah setiap insan di masa mendatang. Hal ini berlaku pula bagi kita para mahasiswa STAIN JURAI SIWO METRO untuk tidak hanya sekedar paham sains tapi juga paham akan sejarah peradaban islam di masa lalu untuk menganalisa dan mengambil ibrah dari setiap peristiwa yang pernah terjadi. Seperti yang kita ketahui setelah tumbangnya kepemimpinan masa khulafaurrasyidin maka berganti pula sistem pemerintahan Islam pada masa itu menjadi masa daulah, dan dalam makalah ini akan disajikan sedikit tentang masa daulah Abbasiyah.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kemunculan daulah Abbasiyah?
2. Bagaimana sistem kekhalifahannya?
3. Bagaimana masa kejayaaan daulah Abbasiyah?
4. Bagaimana runtuhnya daulah Abbasiyah?
C. Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun dalam rangka merefleksi kembali sejarah islam yang telah lalu, sebagai cermin pertimbangan untuk masa mendatang. Sekaligus juga untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.



BAB II
PEMBAHASAN
Dengan tumbangnya daulah Bani Umayyah maka keberadaan Daulah Bani Abbasiyah mendapatkan tempat penerangan dalam masa kekhalifahan Islam saat itu, dimana daulah Abbasiyah in sebelumnya telah menyusun dan menata kekuatan yang begitu rapi dan terencana. Dan dalam makalah ini akan diurakan sedikit mengenai berdirinya masa kekhalifahan Abbasiyah, sistem sosial politiknya, masa kejayaan dan prestasi apa saja yang pernah diraih serta apa saja penyebab runtuhnya daulah Abbasiyah.
A. Kelahiran daulah absiyyah
Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak, karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar.
Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara; terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam, termasuk salah satunya pengucilan yang dilakukan Bani Umaiyah terhadap kaum mawali yang menyebabkan ketidak puasan dalam diri mereka dan akhirnya terjadi banyak kerusuhan .
Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Khalifah itu dikenal memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah. Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah Umayah bergerak mencari jalan bebas, dimana mereka mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun Daulah Abbasiyah.
Di bawah pimpinan Imam mereka Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka bergerak dalam dua fase, yaitu fase sangat rahasia dan fase terang-terangan dan pertempuran.
Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. Propaganda dikirim ke seluruh pelosok negara, dan mendapat pengikut yang banyak, terutama dari golongan-golongan yang merasa ditindas, bahkan juga dari golongan-golongan yang pada mulanya mendukung Daulah Umayah. Setelah Imam Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim, pada masanya inilah bergabung seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang bernama Abu Muslim Al-Khurasani.
Semenjak masuknya Abu Muslim ke dalam gerakan rahasia Abbasiyah ini, maka dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan, kemudian cara pertempuran, dan akhirnya dengan dalih ingin mengembalikan keturunan Ali ke atas singgasana kekhalifahan, Abu Abbas pimpinan gerakan tersebut berhasil menarik dukungan kaum Syiah dalam mengobarkan perlawanan terhadap kekhalifahan Umayah.
Abu Abbas kemudian memulai makar dengan melakukan pembunuhan sampai tuntas semua keluarga Khalifah, yang waktu itu dipegang oleh Khalifah Marwan II bin Muhammad. Begitu dahsyatnya pembunuhan itu sampai Abu Abbas menyebut dirinya sang pengalir darah atau As-Saffah. Maka bertepatan pada bulan Zulhijjah 132 H (750 M) dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II di Fusthath, Mesir dan maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah.
Dalam peristiwa tersebut salah seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayah, yaitu Abdurrahman yang baru berumur 20 tahun, berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. Tokoh inilah yang kemudian berhasil menyusun kembali kekuatan Bani Umayah di seberang lautan, yaitu di keamiran Cordova. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayah dengan nama kekhalifahan Andalusia.

Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Di kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. Imperium ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah.


Dalam beberapa hal Daulah Abbasiyah memiliki kesamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah. Seperti yang terjadi pada masa Daulah Umayah, misalnya, para bangsawan Daulah Abbasiyah cenderung hidup mewah dan bergelimang harta. Mereka gemar memelihara budak belian serta istri peliharaan (hareem). Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang mengembangkan nilai-nilai agama Islam . Namun tidak dapat disangkal sebagian khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama.
B. Sistem Politik, Pemerintahan dan Sosial

1. Sistem Politik dan Pemerintahan
Khalifah pertama Bani Abbasiyah, Abdul Abbas yang sekaligus dianggap sebagai pendiri Bani Abbas, menyebut dirinya dengan julukan Al-Saffah yang berarti Sang Penumpah Darah. Sedangkan Khalifah Abbasiyah kedua mengambil gelar Al-Mansur dan meletakkan dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah. Di bawah Abbasiyah, kekhalifahan berkembang sebagai system politik. Dinasti ini muncul dengan bantuan orang-orang Persia yang merasa bosan terhadap bani Umayyah di dalam masalah sosial ddan pilitik diskriminas. Khalifah-khalifah Abbasiyah yang memakai gelar ”Imam”, pemimpin masyarakat muslim bertujuan untuk menekankan arti keagamaan kekhalifahan. Abbasiyah mencontoh tradisi Umayyah di dalam mengumumkan lebih dari satu putra mahkota raja.

Al-Mansur dianggap sebagai pendiri kedua dari Dinasti Abbasiyah. Di masa pemerintahannya Baghdad dibagun menjadi ibu kota Dinasti Abbasiyah dan merupakan pusat perdagangan serta kebudayaan. Hingga Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia pada saat itu yang kaya akan ilmu pengetahuan dan kesenian. Hingga beberapa dekade kemudian dinasti Abbasiyah mencapai masa kejayaan.
Ada beberapa sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Abbasiyah, yaitu

a. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab murni, sedangkan pejabat lainnya diambil dari kaum mawalli.
b. Kota Bagdad dijadikan sebagai ibu kota negara, ang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan ataupun kebudayaan serta terbuka untuk siapa saja, termasuk bangsa dan penganut agama lain.
c. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang mulia, yang penting dan sesuatu yang harus dikembangkan.
d. Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia.
2. Sistem Sosial
Pada masa ini, sistem sosial adalah sambungan dari masa sebelumnya (Masa Dinasti Umaiyah). Akan tetapi, pada masa ini terjadi beberapa perubahan yang sangat mencolok, yaitu
a. Tampilnya kelompok mawali dalam pemerintahan serta mendapatkan tempat yang sama dalam kedudukan sosial
b. Keraj
aan Islam Daulah Abbasiyah terdiri dari beberapa bangsa ang berbeda-beda (bangsa Mesir, Syam, Jazirah Arab dll.)
c. Perkawina campur yang melahirkan darah campuran
d. Terjadinya pertukaran pendapat, sehingga muncul kebudayaan baru .
C. Kejayaan Daulah Abbasiyah

Masa Abbasiyah menjadi tonggak puncak peradaban Islam. Khalifah-khalifah Bani Abbasiyah secara terbuka mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan dengan mendatangkan naskah-naskah kuno dari berbagai pusat peradaban sebelumnya untuk kemudian diterjemahkan, diadaptasi dan diterapkan di dunai Islam. Para ulama’ muslim yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun non agama juga muncul pada masa ini. Pesatnya perkembangan peradaban juga didukung oleh kemajua ekonomi imperium yang menjadi penghubung dunua timur dan barat. Stabilitas politik yang relatif baik terutama pada masa Abbasiyah awal ini juga menjadi pemicu kemajuan peradaban Islam.
1. Gerakan penerjemahan
Meski kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak Daulah Umayyah, upaya untuk menerjemahkan dan menskrinsip berbahasa asing terutama bahasa yunani dan Persia ke dalam bahasa arab mengalami masa keemasan pada masa DaulahAbbasiyah. Para ilmuandiutus ke daeah Bizantium untuk mencari naskah-naskah yunanidalam berbagai ilmu terutama filasafat dan kedokteran.

Pelopor gerakan penerjemahan pada awal pemerintahan daulah Abbasiyah adalah Khalifah Al-Mansyur yang juga membangun Ibu kota Baghdad. Pada awal penerjemahan, naskah yang diterjemahkan terutama dalam bidang astrologi, kimia dan kedokteran. Kemudian naskah-naskah filsafat karya Aristoteles dan Plato juga diterjemahkan. Dalam masa keemasan, karya yang banyak diterjemahkan tentang ilmu-ilmu pragmatis seperti kedokteran. Naskah astronomi dan matematika juga diterjemahkan namun, karya-karya berupa puisi, drama, cerpen dan sejarah jarang diterjemakan karena bidang ini dianggap kurang bermanfa’at dan dalam hal bahasa, arab sendiri perkembangan ilmu-ilmu ini sudah sangat maju.
Pada masa ini, ada yang namanya Baitul hikmah yaitu perpustakaan yangberfungsi sebagai pusat pengembagan ilmu pengetahuan. Pada masa harun ar-rasyid diganti nama menjadi Khizanahal-Hikmah (Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Pada masa al-ma’mun ia dikembangkan dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah, yang dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagaitempatpenyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium, dan bahkan dari Ethiopia danIndia. Direktur perpustakaannya seorang nasionalis Persia, Sahl Ibn Harun. Di bawah kekuasaan Al-Ma’mun, lembaga ini sebagai perpustakaan juga sebagai pusat kegiatan study dan riset astronomi dan matematika.

2. Dalam bidang filasafat
Pada masa ini pemikiran filasafat mencakup bidang keilmuan yang sangat luas seperti logika, geometri, astronomi, dan juga teologia. Beberapa tokoh yang lahir pada masa itu, termasuk diantaranya adalah Al-Kindi, Al-farobi, Ibnu Sina dan juga Al-Ghazali yang kita kenal dengan julukan Hujjatul Islam.

3. Perkembangan Ekonomi
Ekonomi imperium Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Sudah terdapat berbagai macam industri sepertikain linen di Mesir, sutra dari Syiria dan Irak, kertas dari Samarkand, serta berbagai produk pertanian sepertigandum dari mesir dan kurma dari iraq. Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyahdan Negara lain.
Karena industralisasi yang muncul di perkotaan ini, urbanisasi tak dapat dibendung lagi. Selain itu, perdagangan barang tambang juga semarak. Emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan Barat melambungkan perekonomian Abbasiyah.
Perdagangan dengan wilayah-wilayah lain merupakan hal yang sangat penting. Secara bersamaan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah, Dinasti Tang di Cina juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga hubungan erdagangan antara keduanya menambah semaraknya kegiatan perdagangan dunia.

4. Dalam bidang Keagamaan
Di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah, ilmu-ilmu keagamaan mulai dikembangkan. Dalam masa inilah ilmu metode tafsir juga mulai berkembang, terutama dua metode penafsiran, aitu tafsir bir ra’i dan tafsir bil ma’tsur .
Dalam bidang hadits, pada masa ini hanya merupakan penyempurnaan, pembukuan dari catatan dan hafalan para sahabat. Pada masa ini pula dimulainya pengklasifikasian hadits, sehingga muncul yang namanya hadits dhaif, maudlu’, shahih serta yang lainnya.
Sedangkan dalam bidang hukum Islam karya pertama yang diketahui adalah Majmu’ al Fiqh karya Zaid bin Ali (w.122 H/740 M)yang berisi tentang fiqh Syi’ah Zaidiyah. Hakimagung yang pertama adalah Abu Hanifah (w.150/767).meskidiangap sebagai pendiri madzhab hanafi,karya-karyanya sendiri tidakada yang terselamatkan. Dua bukunya yang berjudul Fiqh alAkbar (terutama berisi artikel tentang keyakinan) dan Wasiyah Abi Hanifah berisi pemikiran-pemikirannya terselamatkankarena ditulis oleh para muridnya.
D. Runtuhnya Daulah Abbasiyah
Tak ada gading ang tak retak. Mungkin pepatah inilah ang sangat pas untuk dijadikan cermin atas kejayaan ang digapai bani Abbasiah. Meskipun Daulah Abbasiyah begitu bercahaya dalam mendulang kesuksesan dalam hampir segala bidang, namun akhirnya iapun mulai kaku dan akhirnya runtuh.
Menurut beberapa literatur, ada beberapa sebab keruntuhan daulah Abbasyiah, yaitu
A. Faktor Internal
 Mayoritas kholifah Abbasyiah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan melalaikan tugas dan kewajiban mereka terhadap negara.
 Luasnya wilayah kekuasaan kerajaan Abbasyiah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukuan.
 Semakin kuatnya pengaruh keturunan Turki, mengakibatkan kelompok Arab dan Persia menaruh kecemburuan atas posisi mereka.
 Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
 Permusuhan antar kelompok suku dan kelompok agama.
 Merajalelanya korupsi dikalangan pejabat kerajaan.
B. Faktor Eksternal
 Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang dan menelan banyak korban.
 Penyerbuan Tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan yang menghancrkan Baghdad. Jatuhnya Baghdad oleh Hukagu Khan menanndai berakhirnya kerajaan Abbasyiah dan muncul: Kerajaan Syafawiah di Iran, Kerajaan Usmani di Turki, dan Kerajaan Mughal di India.







BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dinamakan khilafah bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya adalah keturunan al Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas. Berdirinya Dinasti ini tidak terlepas dari keamburadulan Dinasti sebelumny, dinasti Umaiyah.
Pada mulanya ibu kota negera adalah al-Hasyimiyah dekat kufah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga setabilitas Negara al-Mansyur memindahkan ibu kota Negara ke Bagdad.
Dengan demikian pusat pemerintahan dinasti Abasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Al-Mansyur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif.
Puncak perkembangan dinasti Abbasiyah tidak seluruhnya berawal dari kreatifitas penguasa Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian diantaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan misalnya di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Namun lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abas dengan berdirinya perpustakaan dan akademi.
Pada beberapa dekade terakhir, daulah Abbasiyah mulai mengalami kemunduran, terutama dalam bidang politiknya, dan akhirnya membawanya pada perpecahan yang menjadi akhir sejarah daulah abbasiyah.
B. Saran
Dari penjelasan di atas kita sebagai umat Islam dapat mengambil pelajaran. Sebuah sistem yang teratur akan menghasilkan pencapaian tujuan yang maksimal, seperti kisah pendirian dinasti Abbasiyah. Mereka bisa mendirikan dinasti di dalam sebuah negara yang dikuasai suatu dinasti yang menomorduakan mereka. Selain itu dari sejarah kekuasaan
dinasti Abbasiyah ini kita juga bisa mengambil manfaat yang bisa kita rasakan sampai saat ini, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan. Seharusnya kita yang hidup pada zaman modern bisa meneruskan perjuangan para ilmuwan zaman daulah Abbasiyah dahulu.

Sebaliknya, kita juga dapat belajar dari kekurangan-kekurangan yang ada pada dinasti besar ini agar tidak sampai terjadi pada diri kita dan anak cucu kita. Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan, sehingga mereka tega membantai hampir seluruh keluarga dinasti Umayyah yang notabene adalah sesama umat Islam. Selain itu kecerobohan yang terjadi pada masa dinasti Umayyah terulang lagi pada masa dinasti Abbasiyah yang menyebabkan runtuhnya kekuasaan dinasti Abbasiyah. Kebiasaan penguasa berfoya-foya menyebabkan runtuhnya kekuasaan yang telah susah payah mereka dirikan.









DAFTAR PUSTAKA
 Armstrong, Karen. 2002. Islam : Sejarah Singkat. Yogyakarta : Penerbit Jendela
 Hassan, Hassan Ibrahim.1989. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta.
 Hasimy, A. 1993. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta : Bulan Bintang
 Nizar, Samsul. 2007. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana
 Sunanto, Musyifah. 2003. Sejarah Islam Klasik. Jakarta : Kencana
 Syalabi, A. 1983. Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 2. Jakarta: Pustaka Alhusna.
 Watt, W. Mongtomery.1990. Kejayaan Islam. Yogyakarta : Tiara Wacana

khalifah-khalifah bani abbasiyah

BAB I

PEMBAHASAN
KHALIFAH-KHALIFAH BANI ABBASYIYAH


A. Tiga Dinasti dalam Daulah Abbasiyahntah Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan kufah sebagai pusat pemerintahan, denagan Abbu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindankan pusat pemerintahan ke Bagdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. Imperium ini dengan nama Daulah Abbasiyah. Dalam beberapa hal Daulah Abassiyah memiliki persamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah. Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang mengembangkan nilai-nilai sagama islam. Namun tidak dapat disangkal sebagian khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Daulah Abbasiyah mengalami pergeseran dalam mengembangkan pemerintahan. Sehingga dapatlah dikelompokkan masa Daulah Abbsiyah menjadi lima periode sehubungan dengan corak pemerintah. Sedangkan menurut asal usul penguasa selama masa 508 tahun Daulah Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa. Yaitu Bani Abbas, Bani Buwaihi, Bani Saljuk, seperti tersebut dibawah ini. Kenyataan itu menunnjukkan bahwa masa pemerintahan itu diwarnai oleh intrik istana maupun perebutan kekuasaan secara internal.
 Bani Abbas (750-932)
1) Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M)
2) Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M)
3) Khalifah Al-Mahdi (775-785 M)
4) Khalifah Al-Hadi (785-786 M)
5) Khlifah Harun Al-Rasyid (786-809 M)
6) Khalifah Al-Amin (809-813 M)
7) Khalifah Al-Makmun (813-833 M)
8) Khalifah Al-Muktasim (833-842 M)
9) Khalifah Al-Wasiq (842-847 M)
10) Khalifah Al-Mutawkkil (847-861 M)
11) Khalifah Al-Muntasir (861-862 M)
12) Khalifah Al-Mustain (862-866 M)
13) Khalifah al-Mukktazz (866-869 M)
14) Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M)
15) Khalifah Al-Muktamid 9870-892 M)
16) Khalifah Al-Muktadid (892-902 M)
17) Khalifah Al-Muktafi (902-908 M)
18) Khalifah Al-Muktadir (908-932 M)





 Bani Buwaihihi (932-1075 M)

19) Khalifah Al-Kahir (932-934 M)
20) Khalifah Ar-Radi (934-940 M)
21) Khalifah Al-Mustagi ( 940-944 M)
22) Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M)
23) Khalifah Al-Mufi (946-974 M)
24) Khalifah At-Tai (974-991 M)
25) Khalifah Al-Kadir (991-1031 M)
26) Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M)

 Bani Saljuk (1075-1258 M)

27) Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M)
28) Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M)
29) Khalifah Al-Mustasid (118-1135 M)
30) Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M)
31) Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M)
32) Khalifah al-Mustanjid (1160-1170 M)
33) Khalifah Al0Mustadi (1170-1180 M)
34) Khalifah An-Nasir (1180-1224 M)
35) Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M)
36) Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M)
37) Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M)

 Periodisasi dalam Daulah Abbasiyah
a) Periode pertama (750-847 M)
Diawali dengan tangan besi
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendiri dari Daulah Abbasiyah ini adalah Abu Abbas as-Safah. Diawal pemerintahannya untuk mengukuhkan eksistensi keKhalifahan Daulah Abbasiyah, maka Abbu Abbas menerapkan kebijakan-kebijakan yang cukup tegas, kebijakan itu adalah memusnahkan anggota keluarga Daulah Bani Umayah, serta menggunakan suatu agen rahasia yang berfungsi untuk mengawasi gerak-gerik keturunan Bani Umayah, bila perlu membunuhnya.
Abu Jakfar Al-Mansur adalah Khalifah Daulah Abasiyah yang dikenal paling kejam. Namun dialah yang paling berjasa dalam mengkonsolidasikan dinasti abbasiyah sehingga menjadi kuat dan kokoh, dia meletakkan dasar-dasarpemerintahan Bani abbasiyah dan tidak segan melakukan tindakan tegas kepada pihak-pihak yang mengganggu pemerintahannya.
Untuk menunjang langkah menuju masa kejayaan beberapa kebijakan penting yang diambil oleh Al-Mansur yaitu memindahkan ibu kota dari kuffah ke Baghdad. Misalnya beberapa daerah taklukkan melepaskan diri. Namun demikian pemberontakan-pemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur. Selain itu salah satu kebijakan Al-Mansur adalah melakukkan invasi dan perluasan daerah kekuasaan, antara lain kewilayah Armenia, Mesisah, Andalusia dan afrika.
Puncak opularitas daulah ini berada pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid (786-708 M) dan putranya Al-Makmun (813-833 M). Kedua penguasa ini lebih menekankan pada pengembangan peradaban dan kebudayaan islam ketimbang perluasan wilayah. Orientasi pada pembangunan peradaban dan kebudayaan ini mennnjadi unsure pembeda lainnya.
Ada dua kecendrungan yang terjadi. Pertama.seorang pemimpin local memimpin suatu pemberontakan yang berhasil menegakkan kemerdekaan penuh. Kedua, yaitu ketika orang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh Khalifah menjadi sangat kuat.
Pada zaman Al-Mahdi, perekonomian menningkat. Iriasi yang dibangun membuat hasil pertanian berlipat ganda disbanding sebelumnya. Pertambangan dan sumber-sumber alam bertanbah dan demikian pula perdagangan internasional ketimur dan kebarat.


Tingkat kemakmuran yang palling tinggi adalah pada zaman Harun Ar-Rasyid. Masa itu berlangsung sampai dengan masa Al-Makmun. Al-Makmun menonjol dalam hal gerakan intelektual dan ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku dari yunani.

Salah satu factor penting yang merupakan penyebab Daulah Abbasiyah pada periode pertama ini berhasil mencapai masa kemasan ialah terjadinya asimilasi dalam daulah abbasiyah ini. Berpartisipasinya unsure-unsur non arab, terutama bangsa Persia, dalam pembinaan peradaban Baitul Hikmah dan Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Al-Makmun.

 Zaman Keemasan
Kekhalifahan Bani Abbas biasa dikaitkan dengan Khalifah Harun Al-Rasyid, yang digambarkan sebagai Khalifah yang paling terkenal dalam zaman keemasan Khalifahan Bani Abbasiyah. Dalam memerintah Khalifah digambarkan sangat bijaksana yang saling didampingi oleh abu Nawas, seorang penyiar yang kocak, yang sebernanya adalah seorang ahli hikmah atau felsuf etika.
Dimasa-masa itu para kholifah mengembangkan berbagai jenis kesenian, terutama kesusastraan pada khusus nya dank e budayaan umum nya. Berbagai buku bermutu di terjemahkan dari peradaban india maupun yunani.kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang sastra dan seni juga berkembang.

b) Periode kedua (847-945 M) Kebijakan Khalifah al-Muktasim (833-842 M) untuk memilih unsur-unsur Turki dalam ketentaraan Kekhalifahan Daulah Abbasiyah terutama dibelakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa al-Makmun dan sebelumnya. Di masa al-Muktasim (833-842 M) dan Khalifah sesudahnya Al-Wasiq (842-847).da Khalifah sesudahnya Al-Wasiq (842-847 M), mereka mampu mengendalikan unsure-unsur turki tersebut. Akan tetapi. Khalifah Al-Mutawakkil yang merupan dari awt al periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. Pada maasanya orang-orang turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat setelah Al-Mutawakkil wafat. Mereka telah memilih dan mengangkat Khalfah sesuai kehendak mereka. Dengan demikian Bani Abbasiyah tidak lagi mempunyaikekkuatan dan kekuasaan, meskipun resminya mereka adalah penguasa. Usaha untuk melepaskan diri dari dominasi turki selalu mengalami kegagalan. Pada tahun 892 M, Baghdad kembali menjadi ibu kota. Sementara kehidupan intelektual terus berkembang. Akibat adanya persaingan intnal dikalangan tentara turki, mereka memang mulai melemah. Mulailah Khalifah Ar-Radi menyerahkan kekuasaan kepada Muhammad bin Raiq, Gubernur wasit dari Basrah. Disamping itu Khalifah membeinya gelar Amirul Umara (panglima para panglima). Meskipun dengan demikian keadaan bani abbas tidak menjadi lebih baik. Dari dua belas Khalifah pada periode ini, hanya empat orang wafat dngan wajar, selebihnya kalau tidak dibunuh mereka digulingkan deangan paksa. Pemberotakan masih bemuncul pada periode ini, seperti pemberontakan Zanj didataran rendah irak selatan dan Pemberontakan karamitah yang berpusat di Bahrain. Namun bukan itu semua yang menghambat upaya mewujudkan kesatuan politik Daulah Abbasiyah. Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas oada periode ini adalah sebagai berikut:
• Luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah yang harus dikendalikan, sementara komunikasi lambat. Berbarengan dengan itu kadar saling percaya dikalangan para penguasa dan pelaksaan pemerintah sangat rendah.
• Profesionalisasi tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi.
• Kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. Setelah kekuatan militer merosot, Khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.

c) Periode Ketiga (945-1055 M) Posisi Daulah Abbasiyah yang brrada dibawah kekuasaan Bani Buwaihi merupakan cirri utama dari periode ketiga ini. Keadaaan Khalifah lebih buruk ketimbang dimasa sebelumnya, lebih-lebih karena Bani Buwaihi menganut aliran Syiah. Akibatnya kedudukan Khalifah tidak lenih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Sementara itu Bani Buwaihi telah membagi kekuasaannya kepada ketiga bersaudaranya. Ali menguasai wilayahbagian selatan negeri Persia, Hasan menguasai wilayah bagian utara, dan ahmad menguasai wilayah Al-Ahwaz, Wasit dan Bagdad. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi menjadi pusat pemerintahan Islam, karena telah dipindah ke syiraz dimana berkuasa ali bin buwaihi yang memiliki kekuasaan Bani Buwaihi. Dalam bidang ilmu pengetahuan, Daulh Abbasiyah terus mengalami kemajuan pada periode ini. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti Al-Faribi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Miskaykawaihi dan kelompok studi Ikhwan As-Syafa. Bidang ekonomi, pertanian dan perdagangan juga mengalami kemajuan. Kemajuan itu juga diikuti dengan pembangunan kanal, mesjid dan rumah sakit.

d) Periode Keempat (1055-1199 M) Periode keempat ini ditandai dengan berkuasanya Bani saljuk dalam Daulah Abbasiyah. Kehadiran Bani saljuk ini adalah ats undangan Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di Baghdad. Keadaan Khalifah sudah mulai membaik, paling tidak kewibawaanya dalam bidang agama sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syiah. Seperti halnya pada periode sebelumnya, ilmu pengetahuan juga berkembang dalam periode ini. Nizam Al-Mulk, perdana menteri pada masa alp Arselan dan Maliksyah, mendirikan madrasah Nizamiyah dan Madrasah Harafiyah di Baghdad. Madrasah ini melahirkan banyak cendekiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Dalam bidang politik, pusa kekuasaan juga tidak terletak dikota Baghdad. Mereka membagi wiilayah kekuasaan menjadi beberapa propinsi dengan seorang gubernur untuk mengepali masing-masing provinsi. Pada masa kekuasaan melemah, masing-masing provinsi memerdekakan diri. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi diantara mereka melemah mereka sendiri.
e) Periode kelima (1199-1258 M)
Sempitnya wilayah kekuasaan khalifah menunjukkan kelemahan politiknya.
Faktor-faktor yang membuat daulah abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua factor:

 Faktoe Intern
1. Adanya persaingann tidak ssehat diantara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah.
2. Terjadinya perselisihan pendapat diantara kelompok pemikiran agama yang ada, yang berkembang menjadi pertumpahan darah.
3. Munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan social berkepanjanngan.
4. Terjadinya kemorosatan tingkat perekonomian sebagai akibat dari berontakan politik.
 Faktor Ekstern
1. Berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang.
2. Adanya serbuan tentara Mongol dan Tarta yang dipimpin oleh Hulagu Khan, yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu, yaitu perpustakaan di Baghdad.

Jumat, 21 Oktober 2011

makalah bani abbasiyah

MAKALAH
KHOLIFAH BANI ABBASIYAH


Di Susun oleh :

Kelompok IV


Prodi/kelas : PGMI / A




























DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 3
A. Awal Berdirinya Bani Abbasiyah........................................................ 3
B. Sistem Pemerintahan, Politik dan Bentuk Negara............................. 4
C. Kemajuan Daulat Abbasiyah.............................................................. 7
D. Kemunduran Daulat Abbasiyah........................................................ 13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 15
B.Pesan Dan Saran 16
Daftar Pustaka............................................................................................................ 17











BAB I
Pendahuluan
Awal Berdirinya Bani Abbasiyah
Pada awalnya Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah.
Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 kekuatan kekhalifahan menyusut ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke-13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai memisahkan diri dari kekhalifahan.
Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol yang menyatukan umat Islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi. Namun kemudian, Said bin Husain, seorang muslim Syiah dari dinasti Fatimiyyah mengaku dari keturunan anak perempuannya Nabi Muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909, sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika Utara. Pada awalnya ia hanya menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya. Namun kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Mesir dan Palestina, sebelum akhirnya Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah.
Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171.
1
Sedangkan Bani Umayyah bisa bertahan dan terus memimpin komunitas Muslim di Spanyol, kemudian mereka mengklaim kembali gelar Khalifah pada tahun 929, sampai akhirnya dijatuhkan kembali pada tahun 1031.




















2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Awal Berdirinya Bani Abbasiyah
Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah adalah melanjutkan kekuasaan Dinasti Bani Umayyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa Dinasti ini adalah keturunan Abbas, paman nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbass. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H. Dia dilantik menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H. Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung dari tahun 750-1258 M
Pada abad ketujuh terjadi pemberontakan diseluruh negeri. Pemberontakan yang paling dahsyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan Abbul Abbas melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah). Yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Abbul Abbas. Dengan jatuhnya negeri Syiria, berakhirlah riwayat Dinasti Bani Umayyah dan bersama dengan itu bangkitlah kekuasaan Abbasiyah.
Dari sini dapat diketahui bahwa bangkitnya Daulah Abbasiyah bukan saja pergantian Dinasti akan tetapi lebih dari itu adalah penggantian struktur sosial dan ideologi. Sehingga dapat dikatakan kebangkitan Daulah Bani Abbasiyah merupakan suatu revolusi. Sebelum daulah Bani Abbasiyah berdiri, terdapat 3 tempat yang menjadi pusat kegiatan kelompok Bani Abbas, antara satu dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk menegakkan kekuasaan keluarga besar paman nabi SAW yaitu Abbas Abdul Mutholib (dari namanya Dinasti itu disandarkan). Tiga tempat itu adalah Humaimah, Kufah dan Khurasan.
Humaimah merupakan kota kecil tempat keluarga Bani Hasyim bermukim, baik dari kalangan pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas. Humaimah terletak berdekatan dengan Damsyik. Kufah merupakan kota yang penduduknya menganut
3
aliran Syi‘ah pendukung Ali bin Abi Tholib. Ia bermusuhan secara terang-terangan dengan golongan Bani Umayyah. Demikian pula dengan Khurasan, kota yang penduduknya mendukung Bani Hasyim. Ia mempunyai warga yang bertemperamen pemberani, kuat fisiknya, tegap tinggi, teguh pendirian tidak mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung dengan kepercayaan yang menyimpang. Disinilah diharapkan dakwah kaum Abbassiyah mendapatkan dukungan.
Di bawah pimpinan Muhammad bin Ali al-Abbasy, gerakan Bani Abbas dilakukan dalam dua fase yaitu : 1) fase sangat rahasia; dan 2) fase terang-terangan dan pertempuran. Setelah Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim, maka seorang pemuda Persia yang gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim al-Khusarany, bergabung dalam gerakan rahasia ini. Semenjak itu dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan, kemudian cara pertempuran. Akhirnya bulan Zulhijjah 132 H Marwan, Khalifah Bani Umayyah terakhir terbunuh di Fusthath, Mesir. Kemudian Daulah bani Abbasiyah resmi berdiri.
B. Sistem Pemerintahan, Politik dan Bentuk Negara
Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan berkembang sebagai sistem politik. Menurut pandangan para pemimpin Bani Abbasiyah, kedaulatan yang ada pada pemerintahan (Khalifah) adalah berasal dari Allah, bukan dari rakyat sebagaimana diaplikasikan oleh Abu Bakar dan Umar pada zaman khalifahurrasyidin. Hal ini dapat dilihat dengan perkataan Khalifah Al-Mansur “Saya adalah sultan Tuhan diatas buminya “.
Pada zaman Dinasti Bani Abbasiyah, pola pemerintahan yang diterapkan berbedabeda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya. Sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Bani Abbasiyah I antara lain :
a. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .
b. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi sosial dan kebudayaan.
4
c. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia .
d. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya .
e. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah
Selanjutnya periode II , III , IV, kekuasaan Politik Abbasiyah sudah mengalami penurunan, terutama kekuasaan politik sentral. Hal ini dikarenakan negara-negara bagian (kerajaan-kerajaan kecil) sudah tidak menghiraukan pemerintah pusat , kecuali pengakuan politik saja . Panglima di daerah sudah berkuasa di daerahnya ,dan mereka telah mendirikan atau membentuk pemerintahan sendiri misalnya saja munculnya Daulah-Daulah kecil, contoh; daulah Bani Umayyah di Andalusia atau Spanyol, Daulah Fatimiyah .
Pada masa awal berdirinya Daulah Abbasiyah ada 2 tindakan yang dilakukan oleh para Khalifah Daulah Bani Abbasiyah untuk mengamankan dan mempertahankan dari kemungkinan adanya gangguan atau timbulnya pemberontakan yaitu : pertama, tindakan keras terhadap Bani Umayah . dan kedua pengutamaan orang-orang turunan persi.
Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh seorang wazir (perdana mentri) atau yang jabatanya disebut dengan wizaraat .Sedangkan wizaraat itu dibagi lagi menjadi 2 yaitu:
1) Wizaraat Tanfiz (sistem pemerintahan presidentil ) yaitu wazir hanya sebagai pembantu Khalifah dan bekerja atas nama Khalifah.
2) Wizaaratut Tafwidl (parlemen kabimet). Wazirnya berkuasa penuh untuk memimpin pemerintahan . Sedangkan Khalifah sebagai lambang saja . Pada kasus lainnya fungsi Khalifah sebagai pengukuh Dinasti-Dinasti lokal sebagai gubernurnya Khalifah

5
Selain itu, untuk membantu Khalifah dalam menjalankan tata usaha negara diadakan sebuah dewan yang bernama diwanul kitaabah (sekretariat negara) yang dipimpin oleh seorang raisul kuttab (sekretaris negara). Dan dalam menjalankan pemerintahan negara, wazir dibantu beberapa raisul diwan (menteri departemen-departemen). Tata usaha negara bersifat sentralistik yang dinamakan an-nidhamul idary al-markazy.
Selain itu, dalam zaman daulah Abbassiyah juga didirikan angkatan perang, amirul umara, baitul maal, organisasi kehakiman., Selama Dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya.
Para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi lima periode :
1. 1. Periode pertama (750–847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama
2. 2. Periode kedua (847-945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama
3. 3. Periode ketiga (945 -1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaihdalam pemerintahan dinasti Abbasiayah. Periode ini juga disebut pengaruh Persia kedua
4. 4. Periode keempat (1055-1199 M), masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan kholifah Abbasiyah, biasanya juga disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua
5. 5. Periode kelima (1199-1258 M), masa kholifah bebas dari pengaruh dinasti lain tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Bagdad.
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para Khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam.
Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri Dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750 M sampai 754 M. Karena itu, pembina sebenarnya dari Daulah Abbasiyah adalah
6
Abu Ja’far al-Mansur (754–775 M). Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. amun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, yaitu Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan Dinasti bani Abbasiyah berada ditengah-tengah bangsa Persia.
Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. Namun demikian, faktor-faktor penyebab kemunduran ini tidak datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena Khalifah pada periode ini sangat kuat, benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila Khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil, tetapi jika Khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan.
C. Kemajuan Daulat Abbasiyah
Banyak sekali kemajuan-kemajuan yang terjadi pada masa daulat Abbasiyah diantaranya
a. Perkembangan Intelektual
1. Terjadinya Asimilasi antara bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam ilmu pengetahuan.
2. Gerakan Terjemah
Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dari gerakan ini muncullah tokoh-tokoh Islam dalam ilmu pengetahuan, antara lain ;
a. Bidang filsafat: al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Sina, al-Ghazali,Ibnu Rusyid.
b. Bidang kedokteran: Jabir ibnu Hayan , Hunain bin Ishaq, Tabib bin Qurra ,Ar-Razi.
7
c. Bidang Matematika: Umar al-Farukhan , al-Khawarizmi.
d. Bidang astronomi: al-Fazari, al-Battani, Abul watak, al-Farghoni dan sebagainya.
Dari hasil ijtihad dan semangat riset, maka para ahli pengetahuan, para alim ulama, berhasil menemukan berbagai keahlian berupa penemuan berbagai bidang-bidang ilmu pengetahuan, antara lain :
1. Ilmu Umum
a.Ilmu Filsafat
1) Al-Kindi (809-873 M) buku karangannya sebanyak 236 judul.
2) Al Farabi (wafat tahun 916 M) dalam usia 80 tahun.
3) Ibnu Bajah (wafat tahun 523 H)
4) Ibnu Thufail (wafat tahun 581 H)
5) Ibnu Shina (980-1037 M). Karangan-karangan yang terkenal antara lain: Shafa, Najat, Qoman, Saddiya dan lain-lain
6) Al Ghazali (1085-1101 M). Dikenal sebagai Hujjatul Islam, karangannya: Al Munqizh Minadl-Dlalal,Tahafutul Falasifah,Mizanul Amal,Ihya Ulumuddin dan lainlain
7) Ibnu Rusd (1126-1198 M). Karangannya : Kulliyaat, Tafsir Urjuza, Kasful Afillh dan lain-lain
b. Bidang Kedokteran
1) Jabir bin Hayyan (wafat 778 M). Dikenal sebagai bapak Kimia.
2) Hurain bin Ishaq (810-878 M). Ahli mata yang terkenal disamping sebagai penterjemah bahasa asing.
8
3) Thabib bin Qurra (836-901 M)
4) Ar Razi atau Razes (809-873 M). Karangan yang terkenal mengenai cacar dan campak yang diterjemahkan dalam bahasa latin.
c. Bidang Matematika
1) Umar Al Farukhan: Insinyur Arsitek Pembangunan kota Baghdad.
2) Al Khawarizmi: Pengarang kitab Al Gebra (Al Jabar), penemu angka (0).
d. Bidang Astronomi
1) Al Farazi : pencipta Astro lobe
2) Al Gattani/Al Betagnius
3) Abul wafat : menemukan jalan ketiga dari bulan
4) Al Farghoni atau Al Fragenius
e. Bidang Seni Ukir
Beberapa seniman ukir terkenal: Badr dan Tariff (961-976 M) dan ada seni musik, seni tari, seni pahat, seni sulam, seni lukis dan seni bangunan.
2. Ilmu Naqli
a. Ilmu Tafsir, Para mufassirin yang termasyur: Ibnu Jarir ath Tabary, Ibnu Athiyah al Andalusy (wafat 147 H), As Suda, Mupatil bin Sulaiman (wafat 150 H), Muhammad bin Ishak dan lain-lain
b. Ilmu Hadist, Muncullah ahli-ahli hadist ternama seperti: Imam Bukhori (194-256 H), Imam Muslim (wafat 231 H), Ibnu Majah (wafat 273 H),Abu Daud (wafat 275 H), At Tarmidzi, dan lain-lain
9
c. Ilmu Kalam, Dalam kenyataannya kaum Mu’tazilah berjasa besar dalam menciptakan ilmu kalam, diantaranya para pelopor itu adalah: Wasil bin Atha’, Abu Huzail al Allaf, Adh Dhaam, Abu Hasan Asy’ary, Hujjatul Islam Imam Ghazali
d. Ilmu Tasawuf, Ahli-ahli dan ulama-ulamanya adalah : Al Qusyairy (wafat 465 H). Karangannya : ar Risalatul Qusyairiyah, Syahabuddin (wafat 632 H). Karangannya : Awariful Ma’arif, Imam Ghazali : Karangannya al Bashut, al Wajiz dan lain-lain.
e. Para Imam Fuqaha, Lahirlah para Fuqaha yang sampai sekarang aliran mereka masih mendapat tempat yang luas dalam masyarakat Islam. Yang mengembangkan faham/mazhabnya dalam zaman ini adalah: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal dan Para Imam Syi’ah

b. Perkembangan Peradaban di Bidang Fisik
Perkembangan peradaban pada masa daulah Bani Abbasiyah sangat maju pesat, karena upayaupaya dilakukan oleh para Khalifah di bidang fisik. Hal ini dapat kita lihat dari bangunan –bangunan yang berupa:
a. Kuttab, yaitu tempat belajar dalam tingkatan pendidikan rendah dan menengah.
b. Majlis Muhadharah,yaitu tempat pertemuan para ulama, sarjana,ahli pikir dan pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah.
c. Darul Hikmah, Adalah perpustakaan yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid. Ini merupakan perpustakaan terbesar yang di dalamnya juga disediakan tempat ruangan belajar.
d. Madrasah, Perdana menteri Nidhomul Mulk adalah orang yang mula-mula mendirikan sekolah dalam bentuk yang ada sampai sekarang ini, dengan nama Madrasah.

10
e. Masjid, Biasanya dipakai untuk pendidikan tinggi dan tahassus.
Pada masa Daulah Bani Abbassiyah, peradaban di bidang fisik seperti kehidupan ekonomi: pertanian, perindustrian, perdagangan berhasil dikembangkan oleh Khalifah Mansyur.
c. Kehidupan Perekonomian Daulah Bani Abbasiyah
Permulaan masa kepemimpinan Bani Abbassiyah, perbendaharaan negara penuh dan berlimpah-limpah, uang masuk lebih banyak daripada pengeluaran. Yang menjadi Khalifah adalah Mansyur. Dia betul-betul telah meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi ekonomi dan keuangan negara. Dia mencontohkan Khalifah Umar bin Khattab dalam menguatkan Islam. Dan keberhasilan kehidupan ekonomi maka berhasil pula dalam :
1. Pertanian, Khalifah membela dan menghormati kaum tani, bahkan meringankan pajak hasil bumi mereka, dan ada beberapa yang dihapuskan sama sekali.
2. Perindustrian, Khalifah menganjurkan untuk beramai-ramai membangun berbagai industri, sehingga terkenallah beberapa kota dan industri-industrinya.
3. Perdagangan, Segala usaha ditempuh untuk memajukan perdagangan seperti:
a) Membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafilah dagang.
b) Membangun armada-armada dagang.
c) Membangun armada : untuk melindungi parta-partai negara dari serangan bajak
laut.
Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan dalam dan luar negeri. Akibatnya kafilah-kafilah dagang kaum muslimin melintasi segala negeri dan kapal-kapal dagangnya mengarungi tujuh lautan.
11
Selain ketiga hal tersebut, juga terdapat peninggalan-peninggalan yang memperlihatkan kemajuan pesat Bani Abbassiyah.
1. Istana Qarruzzabad di Baghdad
2. Istana di kota Samarra
3. Bangunan-bangunan sekolah
4. Kuttab
5. Masjid
6. Majlis Muhadharah
7. Darul Hikmah
8. Masjid Raya Kordova (786 M)
9. Masjid Ibnu Taulon di Kairo (876 M)
10. Istana Al Hamra di Kordova
11. Istana Al Cazar, dan lain-lain
d. Strategi Kebudayaan dan Rasionalitas
Dalam negara Islam di masa Bani Abbassiyah berkembang corak kebudayaan, yang berasal dari beberapa bangsa. Apa yang terjadi dalam unsur bangsa, terjadi pula dalam unsur kebudayaan. Dalam masa sekarang ini berkembang empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan akal/rasio yaitu Kebudayaan Persia, Kebudayaan Yunani, Kebudayaan Hindi dan Kebudayaan Arab dan berkembangnya ilmu pengetahuan.

12

1. Kebudayaan Persia
2. Kebudayaan Hindi
3. Kebudayaan Arab
4. Kebudayaan Yunani

D. Kemunduran Daulat Abbasiyah
Disamping kelemahan Khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa di antara nya adalah sebagai berikut:
a. Faktor Internal
1. Persaingan antar Bangsa
Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal Khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para Khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. Setelah al-Mutawakkil, seorang Khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki tidak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Daulah Abbasiyyah sebenarnya sudah berakhir
2. Kemerosotan Ekonomi
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah. Kedua faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan
3. Konflik Keagamaan
Konflik yang melatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara Muslim dan Zindik atau Ahlussunnah dengan Syi’ah saja, tetapi juga antara aliran dalam Islam.

13
4. Perkembangan Peradaban dan Kebudayaan
Kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, yang kemudian ditiru oleh para haratawan dan anak-anak pejabat sehingga menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin
b. Faktor Eksternal
1. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban.
2. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.









14

Penutup
A. Kesimpulan
Daulah Abbasiyah merupakan lanjutan dari pemerintahan Daulah Umayyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendirinya adalah keturunan Abbas, paman Nabi. Daulah Abbasiyah didirikan oleh Abdullah as-Safah. Kekuasaannya berlansung dari tahun 750-1258 M. Di dalam Daulah Bani Abbasiyah terdapat ciri-ciri yang menonjol yang tidak terdapat di zaman bani Umayyah, antara lain :
1. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab. Sedangkan Dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab.
2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa bani Abbas ada jabatan Wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah.
3. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Sebelumnya belum ada tentara Khusus yang profesional.








15
B. Pesan Dan Saran
Adapun pesan dan saran kami sebagai berikut
1. Bahwa apa yang ada didalam makalah ini bukan semata pemikiran kami, akan tetapi kami ambil dari berbagai referensi yang berkaitan dengan judul yang ditigaskan kepada kami. Untuk itu marilah kita ambil hikmah dan manfaatnya.
2. Adapun yang menjadi saran kami supaya isi makalah ini lebih ditingkat lagi, dengan mencari sumber-sumber lain, sehingga kita bisa semakin mengerti dan memahami tentang sejarah peradaban islam mulai dari zaman Rosullullah hingga saat sekarang ini.



















16

Daftar Pustaka

As-suyuthi,Imam.2006.TARIK KHULAFA,sejarah para pnguasa islam.Jakarta;AL - KAUTSAR
Katsir,Ibn.2006.Al – Bidaayah Wan Nihayah.Jakarta; PT.Bulan Bintang
Khaldun,Ibn.Tarikh Islamy. Jakarta; PT.Bulan Bintang
Syu’ub,Muhammad.Sejarah Bani Abbasiyyah. Jakarta; PT.Bulan Bintang
























17

makalah ski khalifah-khalifah bani umayyah

BAB I
PENDAHULUAN

Masa ke khalifahan Bani Ummayah berjalan 90 tahun yaitu dimulai pada kekuasaan Muawiyah bin Abu Sufyan yaitu setelah terbunuhnya Ali bin Abi Thalib dan kemudian orang-orang Madinah membaiat Hasan bin Ali, namun Hasan menyerahkan jabatan kekhafahannya kepada Muawiyah bin Abu Sufyan dalam rangka mendaikan kaum musliminj yang saat itu sedang dilanda bermacam fitnah.
Masa Daulah Bani Umayyah mengalami kemajuan yang pesat dibidang perluasan wilayah dari timur dari khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke kabul. Dan di barat dari Afrika utara menuju wilayah Barat daya, benua Eropa. Daulah Umayyah diakhirin oleh pemerintah khalifah Marwan dan Muhammad.

BAB II
PEMBAHASAN
KHALIFAH-KHALIFAH BANI UMAYYAH

1. Muawiyah bin Abu Sufyan (661-681)
Beliau adalah pendiri daulah bani Umayyah dan menjabat sebagai khalifah pertama, ia memindahkan ibukota dari Madinbah ke Damaskus ke wilayah Suriyah. Pada masa pemerintahannya, beliau melanjutkan perluasan wilayah kekuasaan islam yang terhenti pada masa khalifah Usman bin Affan dan Ali bin Abi tholib. Dimulai dengan menaklukkan Tunisia, kemudian ekspansi ke sebelah timur dengan menguasai daerah khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke kabul. Di samping itu beliau juga mengatur tentara dengan cara baru dengan meniru aturan yang ditetapkan oleh tentara Bizantium, membangun administrasi pemerintahan dan juga menentapkan aturan kiriman pos.
Mu’awiyah bin Abu sufyan meninggal usia 80 tahun dimakamkan di Damaskus di pemakaman Bab Al Shagier.

2. Yazid bin Muawiyah (681-683 M)
Yazid lahir 22 H (643 M) pada tahun 679, Mu’awiyyah mencalonkan anaknya Yazid untuk menggantikan dirinya. Yazid menjabat sebagai khalifah usia 34 tahun (681 M), ketika Yazid naik tahta sejumlah kotoh di Madinah tidak mau menyatakan setia kepada beliau.
Yazid bin Muawiyyah meninggal tahun 64 H/638 M. Usia 38 tahun, masa pemerintahan beliau adalah 3 tahun 6 bulan.

3. Mu’awiyah Ibn Yazid (683-684 M)
Muawiyah menjabat sebagai khalifah tahun 683 – 684 M usianya 23 tahun, beliau orang yang lembut. Dalam pemerintahannya terjadi masa krisis dan ketidak pastian, yaitu timbulnya perselisihan antar suku dengan orang Arab. Mu’awiyah ibn Yazid memerintah selama 6 bulan.

4. Marwan Ibn Al Hakam (684 – 685 M)
Sebelum menjabat sebagai penasehat khalifah utsman bin Affan, Marwan bin Al hakam memperoleh dukungan dari sebagian orang di Syiria dengan cara menyuap dan memberikan berbagai hak kepada masing-masing kepala suku. Untuk mengukuhkan kepada khalifah yang dipegangnnya, maka Marwan bin Al Hakam sengaja menikahi janda khalifah Yazid yaitu ummu khalid.
Marwan bin Hakam wafat usia 63 tahun dan beliau menjabat sebagai khalifah selama 9 bulan 18 hari.

5. Abdul Malil Ibn Marwan (685 – 705 M)
Khalifah Abdul Malik di lantik sebagai khalifah setelah kematian ayahnya 685 M. di bawah kekuasaanya kerajaan ummayah mencapai kekuasaan dan kemulyaan. Beliau adalah khlifah yang pekaara dan negarawan yang cakap dan berhasil memulihkan kembali kesatuan dunia islam dari para pemberontak.
Abdul malik bin Marwan meneruskan perluasan wilayah ke Timur. Beliau mengirim tentara menyebrangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, khawarizm, Ferghana dan samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balukhistan, sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan. Beliau meninggal usia 60 tahun, beliau memerintah selama 21 tahun.

6. Al Walid Ibn Abdul Malik ( 705 – 715 M)
Masa pemerintahan al walid adalah masa ketentraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat islam merasa hidup bahagia. Pada pemerintahannya yang berjalan kurang lebih 10 tahun itu tercatat suatu ekspedisi, militer dari Afrika Utara. Menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. setelah Aljazari dan waroko dapat ditundukkannya , tariq bin Ziyad pemimpin pasokan Islam dengan pasokannya menyevbrangi selat yang memisahkan antara Maroko (Magrib) dengan benua Eropa dan mendarat di Gibratar (jabal Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan ibukota spanyol, cordola dengan cepatnya dapat dikuasai. Selanjutnya kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota spanyol yang baru setelah jatuhknya Cordoba. Pasokan islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa.




7. Sulaiman Ibn Abdul Malik (715 – 717 M)
Beliau jadi khalifah usia 42 tahun. Pemerintahanya selama 2 tahun 8 bulan. Beliau tidak punya kepribadian yang kuat hingga mudah dipengaruhi oleh penasehat-penasehat di sekitarnya.
Satu-satunya jasa yang dapat dikenang masa pemerintahannya adalah menyelesaikan pembangunan jami’ul umawi yang terkenal megah dan agung di damaskus.

8. Umar Ibn Abdul Azis (717 – 720)
Menjadi khalifah usia 37 tahun beliau ingin mengembalikan corak pemerintahan seperti masa khulasa Lirrasyidin. Sewaktu diangkat sebagai khalifah, beliau menyatakan akan memperbaiki dan meningkatkan negeri-negeri yang berada dalam wilayah islam agar menjadi lebih baik daripada menambah perluasannya.
Pembangunan dalam negeri adalah prioritas utamanya, meringankan zakat, kedudukan mawali disejajarkan dengan muslim Arab. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, kebebasannya kepada penganut agma lain untuk beribadah sesuai kepada pengaut agama lain untuk beribadah sesuai kepada keyakinan dan kepercayaannya. Beliau meninggal pada tahun 720 M usia 39 tahun kemudian dimakamkan di Peir Simon.




9. Yalid ibn Abdul Malik (720 -724 M)
Sepeninggal Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan Bani Ummayah dilanjutkan oleh Yazid Abdul Malik. Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketentraman dan kedamaian, pada masa pemerintahannya berubah menjadi kacau.
Dengan latar belakang kepentingan etnis politik, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid yang cenderung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Beliau wafat usia 40 tahun, pemerintahannya berlangsung selama 4 tahun 1 tahun.

10. Hisyam bin Abdul Malik (724-743 M)
Pada masa pemerintahan Hasyam muncul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali. Walaupun Hasyim adalah seorang Khalifah yang kuat dan trampil tapi karena gerakan oposisi ini semakin kuat, semangat tidak berhasil dipadamkannya.
Hisyam bin abdul malik wafat usia 55 tahun, menjadi khalifah selama 19 tahun 9 bulan. Sepeninggal hisyam khalifah-khalifah yang tampil bukan hanya lemah tapi juga bermoral buruk.





11. Walid bin Yazid (743 – 744 M)
Masa pemerintahnnya mengalami kemunduran, beliau berkelakuan buruk dan suka melanggar norma agama keluarganya sendiri benci padanya. Meskipun demikian kebijakan utamanya adalah melipatkan jumlah bantuan sosial bagi pemeliharaan orang-orang buta dan lansia yang tidak punya family untuk merawatnya.
1. Beliau wafat usia 40 tahun.

12. Yazid bin Walid (Yazid III) (744 M)
Beliau tidak mendapat dukungan dari rakyat, karena perbuatannya yang suka mengurangi anggaran belanja negara. Pemerintahannya selama 16 bulan dan beliau wafat usia 46 tahun.

13. Ibrahim bin malik (744 M)
Diangkatnya Ibrahimn tidak memperoleh suara bulat dari dalam lingkungan keluarga bani Umayyah dan rakyatnya karena itu negara menjadi tambah kacau. Beliau wafat tahun 132 H dan menjabat selama 3 bulan.

14. Marwan bin Muhammad (745-750)
Beliau adalah ahli negara yang bijaksanan dan seorang pahlawan, beberapa pemberontkan ditumpasnya. Tapi beliau tidak mampu menghadapi gerakan bani abbasiyah yang teah kuat mpendukungnya.
Meskipun berhasil mlarikan diri ke Mesir, namun Shalih bin Ali, orang yang menerima tugas dari Abdullah. Marwan terbunuh tanggal 27 dzulijah 132 H/ 5 agustus 750 M.
Dengan demikian tamatlah kedaulatan bani Umayah dan sebagai tindak lanjutnya dipegang oleh Daulah Absiyah.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Setelah mengetahui isi dari pembahasan materi tersebut, maka klami dapat menyimpulkan bahwa khalifah-khalifah yang terkenal pada masa daulah umayyah ada 14. masa kejayaannya yaitu pada pemerintahan Mu’awiyah bin Abi sufyan, al walid ibn abdul malik umar bin abdul aziz. Masa yang mengalami kemunduran yaitu khalifah Hisyam bin Abdul Malik dan Khalifah sesudahnya. Setelah hisyam wafat yang tampil bukan hanya lemah tapi juga bermoral buruk.

DAFTAR PUSTAKA

WWW.Google.com
Murodi. 2003. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta ; PT. Karya Toha Putra, Semarang

makalah ski sejarah periode umayyah

SEJARAH PRIODE UMAYYAH

A. Asal-Usul Bani umayyah

Bani Umayyah didirikan oleh Muawwiyah bin Abi Sufyan pada Tahun 41 H/661 M di damaskus dan berlangsung hingga 132 H/750 M. Muawiyah bin Abi Sufyan adalah politisi handal,di lihat dari pengalaman politiknya sebagai gubernur syam pada masa khalifah Usman bin Affan.hal itu cukup mengantarkan dirinya dapat mengambil alih kekuasaan dari genggaman keluarga Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah Husein putra Ali bin Abi Thalib dapat di kalahkan oleh Umayyah dalam pertempuran di karbala,

Silsilah keturunan muawwiyyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syam bin Abdi Manaf bertemu dengan Rasullullah saw pada abdi Manaf. Keturunan nabi di panggil dengan keluarga Hasyim(bani Hasyim).dan Umayyah di panggil dengan(Bani Umayyah) oleh karena itu Muawwiyah dinyatakan sebagai pembangun Dinasti Bani Umayyah.
Umayyah adalah salah seorang putra dari Abdul Syam bin Abdul Manaf, dia adalah seorang kabilah Quraisy di zaman jahiliyah,Umayyah juga pedagan besar dan kaya yang mempunyai 10 anak laki-laki yang mempunyi kekuasaan dan kemuliaan . Umayyah selalu bersaing dengan pamannya yaitu yang bernama Hasyim bin Abdul Manaf dalam merebutkan pimpinan dan kehormatan pada masyarakat dan bangsanya. Dalam persaingan itu bani umayyah lebih unggul, karena secara adat masa itu ia memiliki persyaratan yang cukup, yaitu:
a. bani umayyah dari keturunan bangsawan
b.memiliki kekayaan yang cukup
c. memiliki 10 orang putra yang terhormat dalam masyarakat
setelah islam datang, persaingan antara bani umayyah dengan bani hasyim mengarah pada konfrontasi(permusuhan). Dua keluarga itu berpegang teguh pada paham yang bertentangan. Selain usman bin affan, seluruh bani umayyah menentang usaha-usaha Rasullullah saw dalam mengembamgkan islam, sedangkan bani hasyim menjadi pendukung utama terhadap perjuangan Rasulullah, baik yang telah masuk islam ataupun belum. Dan setelah terjadi fatkhul mekah atau penakhlukan kota mekah barulah bani umayyah masuk islam pada bulan ramadhan 8 hijriyah/januari 630 masehi. Dengan demikian bani umayyah adalah orang-orang terahir masuk islam.
Setelah mereka masuk islam,bani umayyah berjuang keras untuk mengembangkan agama islam, mereka memperlihatkan semangat yang tinggi. Seolah mereka ingin membayar kesalahan yang pernah dilakukannya. Hingga mereka menjadi pedang-pedang islam tajam dan berhasil melebarkan sayap da’wah nya keberbagai penjuru jazirah Arab bahkan keluar wilayah arab.

Berdirinya dinasti bani umayyah diawali dengan tampilnya beberapa pejabat islam dari kalangan umayyah, seperti: ketika terjadi fatkhul mekah Abu Sofyan di beri kehormatan untuk mengumumkan pengamanan Nabi SAW, yang salah satunya adalah barang siapa masuk ke dalam rumahnya maka aman lah dia , selain masuk masjid dan rumahnya Nabi.
Hal ini berlanjut pada masa Khulafaurrasyidin ,Yazid bin Abi Sufyan di tunjuk oleh Abu Bakar memimpin tentara islam untuk membuka daerah syam dan masa khalifah Umar diserahi jabatan gubernur di Damaskus, hal yang dilakukan umar adalah menyerahkan daerah yordania kepada muawwiya, setelah beliau wafat daerah itu diberikan pada muawwiyah, dan setelah umar wafat kekhalifahn di gantikan usman (usman termasuk bani umayah). hal itu merupakan pintu bagi muawiyyah untuk meniti karirnya di bidang pemerintahan.
Pada masa usman inilah kekuatan bani umayyah khususnya pada muawiiyah semakin mengakar dan menguat Muawiyyah pun diangkat menjadi gubernur di syam, dengan berkepribadian yang kuat,jujur, adil dan pandai dalam hal berpolitik, kekuasaan muawiyyah pada wilayah syam tersebut telah membuatnya mempunyai basis rasional untuk karir politiknya, karena penduduk syam yang diperintah muawwiyah mempunyai ketentaraan yang kokoh, terlatih dan terpilih digaris depan dalam melawan romawi. Mereka bersama-sama dengan bangsawan arab dan keturunan umayyah yang berada sepenuhnya dibelakang muawwiyah dan memasoknya dengan sumber-sumber kekuatan yang tidak habis-habisnya baik moral, manusia maupun kekayaan.
setelah wafatnya usman bin affan yang dibunuh oleh orang yang sengaja ingin menghancurkan islam maka berakhirlah kepemimpinan khulafaurrasyidin yang ketiga dan selanjutnya di gantikan oleh Ali bin Abi thalib.
Setelah Ali bin Abi Thalib dibaiat menjadi khalifah beliau menghadapi masalah-masalah yang tidak ringan untuk dipecahkan,seperti wafatnya khalifah usman bin affan telah menjadi momentum perpecahan dikalangan umat islam itu sendiri. Seperti:

a.kelompok muawiyyah menuntut balas atas wafatnya khalifah usman bin affan dan khalifah Ali bin Abi Thalib ikut bertanggung jawab.
b.Kelomok Aisyah,Zubair dan Thalhah menyatakan tidak setuju atas tuntutan wafatnya Usman bin Affan dan juga tidak setuju atas pengangkatan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah.
c.Kelompok pendukung khalifah Ali bin Abi Thalib.
Ketiga kelompok itu masing-masing mempunyai pengikut yang siap untuk membelanya. Bahkan ditambah dengan munculnya orang yahudi (Abdullah bin saba) mengadu domba dan memecah belah umat islam yang akhirnya timbul peperangan, yaitu diantaranya:
~munculnya perang jamal(perang berunta) yaitu peranganya Aisyah,Thalhah dan Zubair dengan golongan Ali bin Abi Thalib. Penyebabnya adalah
1.Golongan Aisyah menolak bai’ah dan sumpah setia pada Ali, karena adanya keinginan pribadi dari Abdullah bin Zubair menduduki kursi khalifah.
2.Abdullah bin saba berhasil mempengaruhi kepada golongan aisyah karena ia tidak ingin kedua golongan ini hidup damai berdampingan.
Perang jamal itu di menangkan oleh Ali, setelah ia memenangkan perang itu ia kembali ke kuffah dan mengutus jarir bin Abdullah Al-bajali menghadap muawwiyah untuk memberikan baiaat pada Ali namun muawwiyah menolaknya dengan jawaban :
~muawwiyah tidak akan memberikan baiat sebelum kematian usman diusut sampai tuntas
~bila Ali tidak melakukan pengusutan terhadap pembunuhan usman, bukan baiat yang akan dilakukan tetapi muawwiyah akan angkat senjata untuk menumpas ali.

LaLlu jarir bin Abdullah menyampaikan hal itu pada ali, ia juga melaporkan telah ada persiapan tempur di syam. Kemudian ali menyimpulkan bahwa tiada pilihan lain kecuali perang.
Passukan Ali yaang bermarkas di kuffah lalu menyebrangi sungai eufrat sampai di siffin, pasukan muawwiyah pun dari syam telah sampai di siffin. Merekapun melakukan pertempuran dahsyat yang berlangsung selama 40 hari. Ketika pasukan ali diambang pintu kemenangan, dan pasukan muawwiyah di ambang kekalahan, maka Amru bi Ash (pembantu utama muawwiyah) memerintahkan pada pasukan untuk memasang mushaf Al-Qur’an diujung tombaknya keatas, yang bertanda mengajak berdamai. Namun Ali terus membangkitkan semangat untuk terus perang sampai benar-benar mencapai kemenangan yang sempurna, namun pasukan lainnya memaksa ali menghentikan perang. Akhirnya Ali menghentikan perang dan selanjutnya melakukan perundingan, yaitu”
~perundingan diadakan di Daumatul Jandal, kota kecil dekat terusan Suez
~masing- masing pihak diwakili 100 utusan
~dari pihsk Ali diketuai Abu Musa Al Asyari dan dari pihak muawwiyah diketuai Amrubin Ash

Pada babak pertama dari perundingan itu menetapkan bahwa usamn telah mati teraniaya, dan wali orang mati berhak menuntut bela dan muawwiayah orang yang aling berhak menuntut bela usman.
Kemudian kedua belah pihak menetapkan menurukan Ali bin Abi Thalib dan muawwiyah bin abi Sufyan dari jabatan masing-masing.dan jabatan khalifah selnajutnya diserahkan kaum muslimin untuk mencari penggantinya.
Untuk melaksanakan keputusan itu Amru bin Ash meminta agar Abu Musa Al asyari lebih dulu berbicara kehadapan umum untu
Menyatakan menurunkan Ali dari jabatan khalifah, alasannya demi menghormati beliau yang lebih tua, lalu beliau pun menyampaikannya. Dan Amr bin Ash pun menyampaikan bahma Muawwiyah bin abi sufyan menjadi khalifah yang baru.

Perundingan muawwiayah dengan Ali yang berlangsung bulan ramadhan tahun 34 hijriah terkenal dengan sebutan “Tahkim Daumatul Jandal” dan peristiwa ini menguntungkan kubu muawwiyah, karena disamping muawwiyah mendapatkan kemenangan besar dalm perundingan, persatuan kubu mereka pun semakin kuatsedangkan di pihak ali menimbulkan perpecahan, yang terpecah menjadi: golongan khawarij dan golongan syiah.

Kaum khawarij meninggalkan ali dan membentuk komplotan pembunuh yang akan dilakukan terhadap ali bin abi thalib, amru bin ash dan muawwiyah, karena mereka dianggap menimbulkan malapetaka umat islam, dari perencanaan pembunuhan itu amru bin ash dan muawwiyah lolos dari pembunuhan tersebut namun Ali bin Abi Thalib dapat dibunuh oleh ibnu muljamdengan pedang ketika ia sedang memanggil orang untuk sholat subuh, ibnu bin muljam pun berhasil ditangkap dan ia kemudian dibunuh.
Dengan wafatnya ali bin abi thalib maka berakhirlah pemerintahan khulafaurrasyidi, sedangkan bagi muawwiyah semakin terbuka pintu menuju kursi kekhalifahan. Setelah terbunuhnya ali, beberapa orang syi’ah engangkat Hasan bin ali menggantikan ayahnya, namun beliau tidak bertahan lama, karena tidak mampu menghadapi tekanan dari muawwiyah.

Kemudian hasan bin ali turun dari tahtanya dan menyerahkan pada muawwiyah, asalkan saja muawwiyah memenuhi beberapa syarat, yaitu:
1.muawwiyah harus membrei jaminan keselamtan kepada hasan dan keluarganya.
2.muawwiyah ikut menjaga keselamatan dan nama baik Ali bin Abi Thalib, termasuk menghentikan caci maki didalam khutbah dan pidato-pidatonya.
3.setelah muawwiyah wafat, penentu khalifah harus diserahkan kepada musyawarah kaum muslimin untuk menentukan penggantiya
4.pajak tanah negeri ahwaz diserahkan pada hasan dan diberikan tiap-tiap tahun
5.agar muawwiyah membayar kepada saudaranya, yaitu husain sebesar 2 juta dirham.

Bagi muawwiayah syarat-syarat itu tidak perlu dipertimbangkan dan ia bersedia menjanjikan apa saja,asal hasan bersedia mengundurkan diri,sebab itu di ceritakan bahwa ia mengetahui keinginan hasan untuk berdamai, atas pengunduran dirinya asal syarat-syarat nya dipenuhi, muawwiyah segera mengirimkan kepada hasan selembar kertas kosong yang telah di tanda tangani nya lebih dahulu, supaya hasan menulis syarat-syarat apa saja yang dikehendakinya.

Perdamaian berlangsung atas dasar syarat-syarat tersebut diatas, hasan lalu mengundurkan diri lalu menyerahkan jabatan khalifah pada muawwiya, kemudian hasan mengumumkan, bahwa ia akan taat dan patuh kepada muawwiyah.

Sesudah itu muawwwiyah masuk kekota kuffah pada bulan rabiul akhir pada tahun 41 hijriah bertemu dengan hasan dan husein yang ikut membaiah muawwiyah bersama kaum musliminlainnya,olehsebab itu tahun itu disebut ammul jamaah(tahun persatuan). Karena rakyat telah bersatu dibawah pimpinan seorang khalifah, kemudian muawwiyah kembali ke damaskus di tetapkannya sebagai ibu kota kerajaan yang baru dengan nama daulat bani umayyah.

Dengan demikan muawwiyah memegang peranan yang penting dalam mendirikan kekuasaan baru sesudah Khulafaurrasyidin, dan ia pun merupakan pendiri sekaligus khalifah utama bani umayyah.

B.Basis pemerintahan muawwiyah

Keberhasilan muawwiyah dalm mendirikan dinasti bani umayyah bukan hanya akibat dari kemenangan diplomasi siffin dan terbunuhnya khalifah ali, akan tetapi ia memiliki basis rasional yang solid bagi landasan pembangunan politiknya di masa depan, adapun faktor keberhasilannya adalah:
1. Dukungan yang kuat dari rakyat syiria dan dari keluarga bani umayyah
2. Sebagai administrator, muawwiyah mampu berbuat secara bijak dengan menempatkan para pembantunya pada jabatan-jabatan penting.
3. Muawwiyah memiliki kemampuan yang lebih sebagai negarawan sejati, bahkan mencapai tingkat (hilm)sifat tertinggi yang dimiliki oleh para pembesar mekkah zaman dahulu, yang mana seorang manusia hilm seperti muawiyyh dapat menguasai diri secara mutlak dan mengambil keputusan-keputusan yang menentukan, meskipun ada tekanan-tekanan dan intimidasi.

c. kedudukan khalifah
walaupun muawwiyah mengubah sistim pemerintahan dari musyawarah menjadi monarkhi, namun dinasti ini tetap memakai gelar khalifah,namun ia memberikan interpretasi baru untuk mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya ”khalifah Allah” dalam pengertian “pengusa” yang diangkat Allah yang memimpin umat dengan mengaitkannya dalam Al-Qur’an, atas dasar
ini dinasti menyatanakan bahwa keputusan-keputusan khalifah berdasarkan atas kehendak Allah, siapa yang menentangnya adalah kafir.

Dengan kata lain pemerintahan dinasti bani umayyah bercorak teokratis, yaitu penguasa yang harus di taati semata-mata karena iman. Seseorang selama menjadi mukmin tidak boleh melawan khalifahnya, sekalipun ia beranggapan bahwa khalifah seseorang yang memusuhi agama Allah dan tindakan-tindakan khalifah tidak sesuai dengan hukum syariat. Dengan demikian meskipun pemimpin dinasti ini menyatakan sebagai khalifah akan tetapi dalam prakteknya memimpin uamat islam sama sekali berbeda dengan kahlifah khulafaurrasyidin, setelah Rasullullah saw.

Muawiyah pun tidak mentaati isi perjanjian yang telah dilakukannya dengan Hasan bin Ali, bahwa seharusnya setelah ia meninggal dunia pergantian pemimpin diserahkan kepada umat islam, namun muawwiyah malah menyatakan seluruh rakyat nya harus setia terhadap anaknya, yazid. Sejak saat itu suksesi kepemimpinan secara turun-temurun dimulai.

Dinasti umayyah hampir berkuasa selam 1abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 khalifah, banyak perkembangan, perluasan dan kemajuan daerah yang dicapai. Lebih-lebih pada masa pemerintahan Walid bin Abdul malik, dimulai oleh kepemimpinan Muawwiyah bin Abi Sufyan dan di akhiri oleh kepemimpinan Marwan bin Muhammad.

permainan penjas

Nama Mahasiswa : Sukron Firudin
NPM : 1063945
Prodi : PGMI
Semester : III
Kelas : A
Mata Kuliah : Pendidikan Orkes

Nama permainan : Berjalan di lingkaran
Peserta : Anak didik
Durasi : 10-15 menit
Tujuan : Agar peserta berlari dengan senang, melatih kecepatan bergerak dan berfikir
Lokasi : Lapangan
Peraturan :
1. Peserta membentuk 1 lingkaran besar
2. Peserta hadap kanan
3. Peserta berjalan searah jarum jam mengikuti alur lingkaran sambil bernyanyi
Ayo jalan-jalan, berjalan di lingkaran
Sambil tepuk tangan, suasana riang
Awas hati-hati, lingkaran mau berubah
Jangan ketinggalan, nanti tak dapat teman
Lingkaran mau berubah, berubah jadi ....(diisi sesuai selera oleh guru)
4. lingkaran dapat berubah jadi 10, 9, 8,7,6,5,4,3, atau 2
Contoh :Jika lingkaran berubah jadi 4, maka peserta berlari bergabung dengan teman-temannya membentuk lingkaran yang hanya terdiri dari 4 peserta
5. Peserta yang tidak mendapat kelompok lingkaran dikumpulkan menjadi satu, lalu ulangi langkah 3 dan 4, sehingga jika sudah terkumpul banyak peserta yang tidak mendapat bagian kelompok lingkaran. Maka kelompok tersebut diberi hukuman.
6. Hukuman dapat berupa perintah; disuruh menyanyi, menari, mengambil sampah dan sebagainya.

makalah ips 2 peta, atlas dan globe

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Peta, atlas, dan globe adalah suatu media atau alat yang dapat digunakan agar lebih mudah dalam mempelajari keadaan bumi. Dengan menggunakan peta, atlas, dan globe kita akan lebih muda dalam mempelajari dan memahami keadaan bumi. Karena peta adalah gambaran permukaan bumi seperti kenampakannya dilihat dari atas secara tegak lurus. Atlas merupakan kumpulan dari beberapa peta. Sedangkan pengertian globe adalah bola peta yang menyerupai bumi. Untuk lebih memahami tentang peta, atlas, dan globe, maka dalam makalah ini akan dijelaskan secara terperinci mengenai peta, atlas, dan globe.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari peta, bentuk dan jenis-jenis peta?
2. Apakah pengertian Atlas, macam-macam atlas, dan beberapa bentuk dari atlas?
3. Apakah pengertian dari globe, bentuk globe, serta kegunaan dari globe?
4. Apakah manfaat dari peta, atlas, dan globe?
5. Apakah manfaat dari mempelajari peta, atlas, dan globe?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari peta, bentuk dan jenis-jenis peta.
2. Mengetahui pengertian atlas, macam-macam atlas, dan beberapa bentuk dari atlas.
3. Mengetahui pengertian dari globe, bentuk globe, serta kegunaan dari globe.
4. Mengetahui manfaat dari peta, atlas, dan globe.
5. Mengethui manfaat dari mempelajari peta, atlas, dan globe.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Peta
A. Pengertian Peta
Pengertian peta menurut Ewin Raisz
Peta adalah gambaran konvensional permukaan bumi seperti kenampakannya dilihat dari atas secara tegak lurus, dan dibubuhi tulisan-tulisan serta keterangan-keterangan untuk kepentingan pengenalan.

Pengertian peta menurut International Cartographic Assosiation (ICA)
Peta adalah gambaran konvensional yang selektif dan yang diperkecil, yang dibuat pada bidang datar, yang menggambarkan perwujudan permukaan bumi atau benda-benda angkasa maupun data yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa.
Dari pengertian peta di atas, ada empat kata kunci yang membedakan peta dengan media lain yaitu sebagai berikut:

Konvensional
Dalam penggambaran peta ada kesepakatan yang harus dipatuhi oleh pembuat peta. Hal ini terkait dengan penggambaran simbol maupun penulisan kenampakan-kenampakan geografis.

Selektif
Kenampakan-kenampakan yang digambarkan pada peta dipilih sesuai dengan pembuatan peta.

Diperkecil
Peta dibuat untuk menggambarkan permukaan bumi yang luas menjadi peta yang ukurannya jauh lebih kecil daripada ruang yang digambarkannya.

Bidang datar
Bumi berbentuk bulat digambarkan ke dalam peta pada selembar kertas yang merupakan bidang datar.

B. Fungsi peta
Secara umum, fungsi peta antara lain sebagai berikut:
1. sebagai alat bantu untuk memberikan informasi yang bersifat keruangan dan spesifik dari suatu daerah
2. sebagai alat panduan untuk terjun di lapangan, misalnya untuk kepentingan penelitian, kepariwisataan, SAR, militer dan lain-lain
3. sebagai alat untuk menganalisis maupun deskripsi dari suatu wilayah yang sedang diteliti
4. sebagai alat untuk menyampaikan ide atau usulan suatu perencanaan
5. sebagai media pembelajaran geografi.

C. Klasifikasi peta
Peta dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Hal ini tergantung dari dasar klasifikasi yang digunakan. Berikut dikemukakan dua cara untuk mengklasifikasikan jenis peta, yaitu berdsarkan skala dan isinya.

Berdasarkan Skala
Berdasarkan skalanya, peta dapat dibedakan menjadi 5 macam, yaitu sebagai berikut:
1. Peta teknik/peta kadaster
1:100 s.d 1:5000
2. Peta skala besar
1:5.000 s.d 1:250.000
3. Peta skala sedang
1:250.000 s.d 1:500.000
4. Peta skala kecil
1:500.000 s.d 1:1.000.000
5. Peta geografi
Lebih kecil dari 1:1000.000

Berdasarkan isinya
Berdasarkan isinya, peta dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu sebagai berikut:
 Peta Umum
Peta umum adalah peta yang menggambarkan kenampakan-kenampakan umum dari permukaan bumi, baik kenampakan yang bersifat alami maupun buatan manusia.










Gambar 1.1 Peta Umum
 Peta Khusus/ Peta Tematik
Peta yang menggambarkan kenampakan khusus / tema tertentu.










Gambar 1.2 Peta Tematik
ICA mengklasifikasikan peta menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Peta Topografi
Peta yang menggambarkan gambaran umum mengenai permukaan bumi.










Gambar 1.3 Peta Topografi
2. Chart
Peta jalan dibuat dengan tujuan untuk membantu navigasi darat, laut, maupun udara.

Gambar 1.4 Peta Jalan
3. Peta Tematik
Peta yang menggambarkan informasi kualitatif maupun kuantitatif tentang kenampakan-kenampakan yang ada hubungannya dengan detail topografi tertentu.









Gambar 1.5 Peta Tematik kawasan sentra produksi pangan sumbar

D. Syarat Peta
Sebuah peta terdiri dari dua bagian:
1. Muka Peta
Merupakan cakupan wilayah daerah yang digambar dalam peta.
2. Informasi Tepi Peta
Merupakan informasi atau keterangan yang biasanya terletak di seputar muka peta yang terdiri atas aspek-aspek berikut:
a) Judul Peta
b) Skala Peta
c) Orientasi Peta: penunjuk arah pada peta, legenda, keterangan simbol yang digunakan dalam peta.

Penyusun/ Pembuat peta
• Sumber data
• Grid peta
• Inzet
Proyeksi
Proyeksi peta adalah suatu sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di bumi dan di peta.
Klasifikasi Proyeksi Peta
1) Berdasrkan garis karakteristiknya
a) Proyeksi Normal
b) Proyeksi Transversal
c) Proyeksi Oblique
2) Berdasarkan sifat asli yang dipertahankan
a) Proyeksi Ekuivalen
b) Proyeksi Conform
c) Proyeksi Equidistant
3) Berdasarkan konstruksinya
a) Proyeksi Perspektif
b) Proyeksi Nonperspektif
4) Berdasarkan bidang proyeksinya
a) Proyeksi Zenithal
b) Proyeksi Kerucut
c) Proyeksi Silinder
5) Proyeksi dengan Paralel Horizontal
a) Proyeksi Mercator
b) Proyeksi Gall’S
c) Proyeksi Sinsoidal
6) Proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM)

E. Bentuk-Bentuk Muka Bumi pada Peta
1. Dataran
a. Dataran Rendah
Secara Umum, dataran rendah diidentifikasikan sebagai relief daratan yang mempunyai ketinggian antara 0-400 m. Dataran rendah digambarkan dengan menggunakan simbol area berwarna hijau. Pewarnaan hijau tersebut dapat dipecah lagi menjadi beberapa tingkatan warna, misalnya warna hijau untuk ketinggian antara 0-100 m dan warna hijau muda untuk ketinggian antara 100-400 m.
b. Dataran Tinggi
Dataran tinggi diidentifikasikan sebagai relief daratan yang mempunyai ketinggian antara 400-1000 m dari permukaan air laut. Datarn tinggi digambarkan dengan menggunakan simbol area berwarna kuning atau cokelat muda.
c. Kawasan Pegunungan atau Perbukitan
Kawasan pegunungan atau perbukitan diidentifikasikan sebagai daratan yang memiliki kemiringan lereng yang relatif lebih besar bila dibandingkan dengan dataran dan mempunyai ketinggian di atas 1.000 meter. Karena kemiringannya yang relatif besar, maka kawasan ini bila digambarkan dengan peta kontur akan memiliki garis-garis kontur yang relatif rapat satu sama lain. Adapun pada peta umum, kawasan ini digambarkan dengan simbol area berwarna cokelat.
d. Rawa, Danau, dan Waduk
Pada peta, danau dan waduk digambarkan dengan simbol area berwarna biru, sedangkan rawa digambarkan dengan simbol area berwarna hijau dengan garis putus-putus.



Simbol danau atau waduk Simbol rawa

e. Sungai
Pada peta, aliran sungai digambarkan dengan garis yang berkelok-kelok berwarna biru. Sementara itu pada peta kontur, sungai digambarkan dengan garis yang memotong pola kontur dengan arah kontur membelok ke arah hulu.



Penggambaran sungai di peta umum Penggambaran sungai di peta topografi
f. Gunung
Pada uumnya gunung memiliki ketinggian diatas 1000 meter. Dalam peta gunung digambarkan dengan simbol segitiga berwarna merah untuk gunung aktif dan segitiga berwarna hitam untuk gunung mati.

: gunung aktif : gunung mati

g. Kota/Pemukiman dan Jalan
Suatu bentuk permukiman hanya ditunjukkan oleh letak ibukotanya. Penggambaran letak ibukota digambarkan dengan simbol berikut ini.
: ibukota negara : ibukota kabupaten

: ibukota provinsi : ibukota kecamatan

: ibukota kotamadya

Adapun jalan yang merupakan hasil budidaya manusia digambarkan dengan menggunakan simbol garis berwarna hitam atau merah.

2. Lautan
Pada umumnya lautan digambarkan dengan simbol area berwarna biru. Penggambaran warna tersebut dapat dibedakan menjadi beberapa tingkatan warna berikut ini.

Kedalaman hingga 200 meter

Kedalaman hingga 1.000 meter

Kedalaman > 1.000 meter





2.2 Atlas
A. Pengertian Atlas
Atlas merupakan kumpulan dari peta-peta yang disusun dalam bentuk buku (yang dijilid menjadi satu) atau dalam keadaan lepas, tetapi dikumpulkan menjadi satu.
Dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan atlas antara lain berdasarkan:
1) Atas dasar wilayah
• Atlas dunia(alam semesta, planet, bumi, lautan dan kontinen)
• Negara (Atlas Nasional)
• Bagian Negara ( Atlas Regional, Atlas Provinsi)
• Kota (Atlas Kota)
2) Atas tujuan pembuatannya
• Atlas untuk referensi umum
• Atlas untuk pendidikan
• Atlas untuk wisata
3) Atas dasar isinya
• Atlas Topografi
• Atlas Tematik

B. Penggunaan Atlas
Dalam menggunakan atlas, ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu:
• Memilih jenis atlas sesuai dengan informasi yang diinginkan.
• Daftar isi
Pengguna dapat memilih dengan cepat informasi yang diinginkan.
• Keterangan
Digunakan untuk mempermudah membaca peta diperlukan keterangan / legenda. Sehingga pengguna dapat dengan cepat memahami isi peta.
• Indeks
Digunakan untuk mempermudah pengguna mencari letak suatu kenampakan geografis pada atlas.

2.3 Globe
A. Pengertian Globe
Globe merupakan bola peta yang bentuknya menyerupai bumi. Kedudukan globe miring sebesar 23 ½° , sama dengan kecondongan bumi terhadap bidang ekliptika.











Gambar 1.6 Globe

B. Kegunaan Globe
Kegunaan globe antara lain:
1) Perencanaan untuk perjalanan jauh, baik melalui darat maupun laut.
2) Analisis mengenai rambatan gelombang gempa bumi dan gelombang samudera, gerakan arus laut dapat dilakukan secara baik melalui globe.
3) Menggambarkan letak garis lintang,garis bujur, garis equator, letak kutub, dan letak bujur dengan jelas dalam bentuk tiga dimensi.
4) Menjelaskan proses gerhana bulan dan gerhana matahari
5) Menggambarkan letak, luas daerah, Negara, benua, dan laut secara lebih akurat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah mengetahui isi dari pembahasan materi tersebut, maka kami dapat menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara peta, atlas dan globe. Salah satu perbedaannya adalah peta merupakan gambaran konvensional yang selektif dan yang diperkecil, yang dibuat pada bidang datar, yang menggambarkan perwujudan permukaan bumi. Atlas merupakan kumpulan dari peta-peta yang disusun dalam bentuk buku dan Globe merupakan bola peta yang bentuknya menyerupai bumi.

3.2 Saran
Sebagai calon guru, kita harus mengetahui tentang kondisi geografi di Indonesia agar kita dapat memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Untuk menunjang hal tersebut kita harus lebih serius dalam mempelajari tentang peta,atlas dan globe. Sehingga kelak di kemudian hari kita dapat dengan mudah menyampaikan ilmu kepada peserta didik tentang peta, atlas dan globe.














DAFTAR PUSTAKA
Tusriyanto. 2010. Buku Ajar Ilmu Pengetahuan Sosial 2. Metro: STAIN JURAI SIWO METRO.
Fattah Sanusi, Trimanto Jono, Waskito Juli, Taukit Setyawan Muhammad.2008. Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk SMP/MTS Kelas IX. Jakarta: PT. Macanan Jaya Cemerlang.
Amsir. 2007. Pelajaran Geografi untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Arya Duta.